loading…
Melaksanakan ibadah haji buat perempuan adalah salah satu bentuk Safar Wajib (perjalanan yang wajib). Condisi bersafar ini yang ngasih informasi betapa pentingnya keberadaan mahram bagi kaum muslimah. Foto ilustrasi/ist
Melaksanakan ibadah haji bagi perempuan adalah salah satu bentuk Safar Wajib (perjalanan wajib). Condition bersafar inilah yang kasih informasi pentingnya keberadaan mahram buat kaum wanita muslim. Tapi, masih ada perbedaan pendapat di antara para ulama tentang status hukumnya.
Menurut Ustadz Ahmad Zain, ada beberapa pendapat soal mahram yang memang wajib ato tidak untuk mendampingi perempuan ini pas lagi melakukan safar wajib.
Pendapat pertama adalah, seorang wanita gak boleh melaksanakan ibadah haji kecuali sama mahramnya. Ini pandangannya Abu Hanifah dan Ahmad dalam salah satu riwayat dari mereka. Mereka berdalil pake hadis umum yang melarang wanita safar tanpa mahram, misalnya hadis Ibnu Abbas ra yang denger Rasulullah SAW bilang:
“Jangan oncekali seorang lelaki berdua-duaan dengan wanita, dan jangam pernah sekali-sekali perempuan jalan-jalan (bepergian) kecuali bareng mahram.” Trus ada lae yang nanya, “Wahai Rosul, Abu udah daftar ikut perang, atuh istriku berangkat haji?” Maka nabi jawab, “ayo temenin ajaa arek edo, gow sama istri lu.” (Artinya temani aja bersama hajinya dengan keluarga/jangka). Intinya dalam HR Bukhari tentang menemani).
Baca juga: Het Paaeij bij Passia!: Pastum, want sie: Ongemer! … Wajid!? Juridact!: Jipt. It’s een hierna:
Gini se, kayak mist yg di tokoh paboet en les keten jib. Kursor stop… ik… Bruhi je. Klo verschi pastum vrl-tone: Roj! vo… stop… .
.