Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan isyarat bahwa AS mungkin bisa mengambil alih kuba, namun dengan cara yang damai. Pernyataan ini ia sampaikan pada hari Jumat ketika bersiap naik helikopter Marine One di halaman Gedung Putih untuk pergi ke Texas.
Dekat dengan kumpulan wartawan, Trump menjawab pertanyaan tentang hubungan AS yang tegang dengan negara seperti Iran dan Kuba. Dia menyatakan ingin melihat pemerintahan baru di kedua negara itu.
Mengenai Kuba, Trump menyebutkan tentang transisi yang akan "sangat positif bagi orang-orang yang diusir atau bahkan lebih parah lagi."
"Pemerintah Kuba sedang berkomunikasi dengan kita, dan mereka sedang dalam kesulitan besar, seperti yang kamu tahu. Mereka tidak punya uang. Mereka tidak punya apa-apa sekarang, tapi mereka sedang berbicara dengan kami," kata Trump kepada para media.
"Mungkin kami akan melakukan pengambilalihan Kuba secara damai. Kami mungkin akan mengambil alih Kuba dengan damai."
Selama dua bulan terakhir, Trump telah mendorong perubahan rezim di pulau Karibia yang dipimpin komunis itu dengan menggunakan tekanan ekonomi dan diplomatik.
Dalam pernyataannya di hari Jumat, Trump menegaskan lagi pendapatnya bahwa Kuba adalah "negara yang gagal" yang hampir runtuh.
"Sejak saya kecil, saya sudah dengar tentang Kuba, dan semua orang ingin ada perubahan, dan saya bisa melihat itu terjadi," ucap Trump.
Dia menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang keturunan Kuba-Amerika dan dikenal keras, yang memimpin inisiatif ini.
"Marco Rubio yang menanganinya dengan sangat serius, dan kamu tahu, mereka tidak punya uang. Mereka tidak punya minyak, tidak punya makanan, dan sekarang benar-benar negara yang punya masalah besar. Dan mereka butuh bantuan kita," jelas Trump.
Tekanan terhadap Kuba Semakin Meningkat
Amerika Serikat sudah lama punya hubungan yang tegang dengan Kuba, pulau yang cuma berjarak 145 kilometer dari pantainya. Sejak tahun 1960-an, AS memberlakukan embargo perdagangan penuh ke pulau itu, yang melemahkan ekonominya.
Tapi ketegangan ini meningkat sejak 3 Januari, ketika Trump mengizinkan operasi militer untuk menculik dan memenjarakan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang merupakan sekutu dekat Kuba.
Diperkirakan sekitar 32 tentara Kuba meninggal dalam serangan itu, bersama dengan personel militer dari Venezuela.