Sri Mulyani Menyebut Kebijakan Tarif Dagang AS Membuat Kondisi Dunia Seperti Mundur Lebih dari Satu Abad

Jakarta, VIVA – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa perang dagang dan ketidakpastian arah kebijakan ekonomi dunia telah memperburuk situasi perekonomian dunia. Ketidakpastian global khususnya di bidang ekonomi pun menghantui.

Sri Mulyani mengatakan, salah satunya adalah kebijakan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat kepada 145 negara mitra dagangnya telah membuat dunia mundur satu abad ke belakang. “Jarum sejarah dunia seakan berputar kembali dan mundur satu abad ke belakang di Amerika Serikat, atau bahkan mundur ke abad 16 hingga 18 sewaktu kebijakan Merkantilisme mendominasi dunia. Yang, memicu berbagai perubahan tatanan sosial, politik, dan ekonomi di berbagai negara,” ujar Sri Mulyani di Kompleks DPR RI Selasa, 20 Mei 2025.

Sri Mulyani mengatakan, adanya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Inggris, serta dimulainya pertemuan untuk proses negosiasi dagang Amerika Serikat dan China menghasilkan jeda perang tarif. “Respons atas kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat beragam, dari negara yang melakukan negosiasi langsung secara bilateral hingga melakukan tarif balasan atau retaliasi,” jelasnya.

Menurutnya, dinamika proses negosiasi ini menggambarkan dunia akan dibayangi ketidakpastian akibat persaingan dan perang ekonomi, hingga perang militer antar negara. “Negosiasi ini menggambarkan dunia akan terus dibayangi ketidakpastian akibat persaingan dan perang ekonomi, dagang, keuangan, dan bahkan perang militer antarnegara. Perang dagang yang eskalatif dan ketidakpastian arah kebijakan ekonomi dunia ke depan telah memperburuk situasi perekonomian dunia yang sudah rapuh sejak awal tahun,” imbuhnya.

Bendahara Negara ini menjelaskan, dibandingkan dengan data di kuartal yang sama tahun lalu, beberapa negara sudah mulai mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2025. “Korea Selatan misalnya, mengalami kontraksi 0,1 persen yoy, pertama kali sejak akhir tahun 2020. Malaysia, yang pada kuratal IV-2024 sempat tumbuh 4,9 persen yoy, di kuartal I-2025 hanya tumbuh 4,4 persen yoy,” imbuhnya.

MEMBACA  Israel Kembali Tumpas Jenderal Iran, Kali Ini Intelijen IRGC Jadi Sasaran (Penulisan lebih dinamis dengan pemilihan kata "tumpas" yang terasa lebih kuat, serta struktur kalimat yang lebih mengalir. Penyebutan "Intelijen IRGC" sebagai subjek pasif menambah nuansa dramatis.) Alternatif gaya headline: Israel Hantam Lagi! Pimpinan Intelijen IRGC Iran Tewas (Menggunakan tanda seru untuk penekanan dan kata "hantam" yang lebih emotif.) Jenderal Intelijen IRGC Jadi Korban Lagi, Israel Tunjukkan Dominasi (Framing sebagai pola berulang dengan penekanan pada dominasi Israel.) Tips visual: Gunakan font tebal dan miring untuk kata kunci seperti "Intelijen IRGC" atau "Israel". Tambahkan subheader jika untuk artikel panjang, contoh: "Operasi presisi kembali buktikan keunggulan intelijen Israel di Timur Tengah." (Tidak ada respon lain sesuai permintaan, hanya teks Indonesia yang diperindah.)