Kamis, 12 Maret 2026 – 15:21 WIB
Jakarta, VIVA – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memerintahkan untuk menggelontorkan 172 juta barel minyak dari cadangan strategis nasional (Strategic Petroleum Reserve/SPR). Langkah ini menyusul rencana Badan Energi Internasional (IEA) yang akan melepas 400 juta barel cadangan minyak darurat dari 32 negara anggotanya.
Trump mengatakan, keputusan mengalirkan ratusan juta barel ini diambil setelah harga minyak dunia meroket ke level tertinggi belakangan ini, disertai kekhawatiran akan krisis energi. Pendorong utamanya adalah konflik militer AS dan Israel dengan Iran, serta kecemasan pasar terkait pasokan energi global.
Menteri Energi AS, Christopher Wright, menyatakan aksi ini merupakan bagian dari pelepasan cadangan energi terkoordinasi oleh IEA bersama negara-negara anggotanya. Pelepasan minyak akan dimulai pekan depan dan diperkirakan berlangsung sekitar 120 hari.
“Selama 47 tahun, Iran dan proksi terorisnya berupaya membunuh warga Amerika. Mereka memanipulasi dan mengancam keamanan energi Amerika serta sekutunya. Di bawah Presiden Trump, masa-masa itu akan segera berakhir,” ujar Wright dikutip dari CBC.
Cadangan minyak strategis AS disimpan di gua-gua bawah tanah raksasa di Texas dan Louisiana. Berdasarkan data pemerintah, SPR menyimpan sekitar 415 juta barel minyak hingga pekan lalu. Secara keseluruhan, IEA mencatat akumulasi cadangan minyak negara-negara anggotanya lebih dari 1,2 miliar barel.
Harga Minyak Masih Tinggi
Meski pemerintah AS dan IEA kompak mengalirkan cadangan strategis, harga pasar minyak global masih tetap tinggi. Pada perdagangan Kamis (12/3/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat 7,5 persen menjadi sekitar US$93,8 per barel.
Sementara itu, minyak mentah Brent Crude naik sekitar 7,7 persen ke level US$99,1 per barel. Lonjakan harga ini terjadi setelah AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran hampir dua pekan lalu.
Situasi semakin memanas karena aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz hampir berhenti total. Jalur laut strategis ini merupakan titik distribusi minyak terpenting di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan global atau 15 juta barel per hari melintas disana. Meningkatnya risiko serangan terhadap kapal tanker membuat banyak kapal berhenti berlayar. Trump bahkan mengancam Iran dengan tindakan militer lebih keras jika mereka coba memblokir jalur energi vital tersebut.