Membuka Opsi Invasi Militer, Sebenarnya Apa yang Ingin Diraih Trump dari Iran?

loading…

Presiden AS Donald Trump membuka opsi serangan militer ke Iran untuk menggulingkan Ayatollah Ali Khamenei. Foto/A2News

WASHINGTON – Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyerang Iran memberikan sedikit rincian tentang tujuan jangka panjang Amerika jika terjadi konflik, baik yang berkepanjangan maupun singkat.

Trump telah mengirim kapal perang dan puluhan pesawat tempur ke Timur Tengah dan memiliki beberapa pilihan yang bisa mengguncang stabilitas regional.

Baca Juga: Iran Bakal Dipasok Ribuan Rudal Bahu Canggih Rusia Senilai Rp9,9 Triliun

Apakah Trump akan memerintahkan serangan presisi yang menargetkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, tulang punggung rezim ulama yang berkuasa? Atau mencoba menghancurkan program rudalnya—seperti yang diinginkan Israel—atau bahkan berusaha memaksakan pergantian rezim di Teheran?

Iran telah mengancam akan membalas dengan keras jika diserang.

Apa Saja Pilihan Trump?

Trump mengatakan pada Kamis lalu bahwa dia akan memutuskan dalam 10 atau 15 hari apakah akan memerintahkan serangan terhadap Iran jika kesepakatan nuklir tidak tercapai.

Media AS, Axios, melaporkan bahwa Trump dihadapkan pada beragam opsi militer, termasuk serangan langsung terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Trump telah berulang kali menyatakan bahwa dia lebih memilih jalur diplomasi yang mengarah pada kesepakatan yang tidak hanya membahas program nuklir Iran, tetapi juga kemampuan rudal balistik dan dukungan Teheran terhadap kelompok militan seperti Hizbullah dan Hamas. Iran telah menolak untuk memberikan konsesi tersebut.

Amerika Serikat dan Iran baru-baru ini mengadakan dua ronde perundingan tidak langsung, di Oman dan Swiss. Perundingan itu belum mendekatkan posisi kedua belah pihak, dengan pembicaraan dijadwalkan akan dilanjutkan pada hari Kamis di Swiss.

MEMBACA  Hakim Membebaskan Ronald Tannur Mengaku Menyimpan Puluhan Juta di Tas Kerja, Menyangkal Itu Uang Suap

Trump terkejut bahwa Iran belum menyerah meskipun ada peningkatan besar kehadiran militer AS di Timur Tengah, kata utusannya, Steve Witkoff.

Tinggalkan komentar