Melalui Animasi, Anak Kini Belajar Hadapi Gempa & Tsunami

Selasa, 5 Mei 2026 – 00:37 WIB

Depok, VIVA – Ditengah tingginya risiko bencana di Indonesia, pendekatan edukasi mulai dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian anak-anak. Salah satunya lewat video animasi, yang dinilai lebih mudah dipahami dan menarik untuk generasi usia dini.

Pendekatan ini hadir dalam kolaborasi antara TOA Indonesia dan Universitas Indonesia lewat inisiatif “When Knowledge Meets Readiness”. Fokus utamanya adalah mengenalkan kesiapsiagaan bencana ke sekitar 5.000 siswa SD di daerah rawan bencana. Scroll buat tahu lebih lanjut, yuk!

Dalam peluncuran di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI, Depok, dua video animasi edukasi berjudul “Aku Harus Apa?” diperkenalkan sebagai media belajar baru. Gak pake pendekatan teoritis yang kaku, video ini ngangkat skenario sederhana yang dekat sama kehidupan sehari-hari anak—mulai dari kebakaran, gempa bumi, sampe tsunami.

Lewat format animasi, pesan tentang langkah darurat dikemas lebih ringan, gampang diingat, dan gak menakutkan. Harapannya, anak-anak bukan cuma paham, tapi juga bisa ngerespons situasi darurat dengan lebih cepat dan tepat.

Pendekatan ini sekaligus jawab tantangan literasi kebencanaan, yaitu kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan nyata. Materi videonya juga gak asal buat, melainkan lewat riset bareng para ahli, termasuk referensi dari Research Institute of Disaster Science di Jepang.

Brand & Community Manager TOA Indonesia, Clara Dinny Aryanti, bilang kalo inisiatif ini adalah bagian dari peran yang lebih luas dari sekedar penyedia teknologi.

“Selama ini TOA Indonesia dikenal untuk penyediaan sistem pengeras suara di rumah ibadah. Tapi lebih dari itu, TOA sebagai perusahaan dari Jepang punya DNA kuat dalam pengembangan sistem peringatan darurat. Kami yakin peran TOA di Indonesia gak berhenti di perangkat aja, tapi juga gimana teknologi bisa diimplementasi secara optimal dan ngasih kontribusi nyata buat lindungin masyarakat,” katanya.

MEMBACA  Inovasi Drone MQ-9 Reaper AS Tetap Tangguh Meski 11 Unit Runtuh Dihantam Iran

Dari sisi akademisi, kolaborasi ini dilihat sebagai langkah konkret buat nguatin pemahaman masyarakat sejak dini.

“Literasi kebencanaan di Indonesia masih butuh upaya ekstra dalam hal gimana masyarakat nerjemahin informasi jadi tindakan. Pertemuan dengan TOA Indonesia di forum ilmiah AIWEST buka peluang kolaborasi baru buat jawab tantangan ini. Hari ini adalah kelanjutan komitmen yang udah dibangun, dengan harapan bisa ngasih dampak yang berkelanjutan buat masyarakat luas,” jelas Dosen Prodi Geologi & Geofisika FMIPA UI, Asri Oktavioni Indraswari, S.T., M.Sc., D.Phil.

Tinggalkan komentar