Pemerintah Indonesia kembali mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi menyeluruh terkait kematian Pratu Rico Pramudia, seorang pasukan penjaga perdamaian UNIFIL, setelah insiden pada akhir Maret 2026 lalu.
Dalam pernyataan pada hari Sabtu, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, mengatakan bahwa pemerintah memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Pramudia dan terus berkoordinasi dengan UNIFIL untuk memastikan proses pemulangan jenazahnya secara cepat dan terhormat.
“Berbagai tindakan medis telah dilakukan, namun karena parahnya luka yang diderita, korban tetap tidak dapat selamat,” ujanya.
Mulachela juga menegaskan bahwa Indonesia mengutuk keras serangan Israel di Lebanon yang menewaskan pasukan perdamaian Indonesia tersebut.
Pemerintah menekankan bahwa keselamatan dan keamanan personel PBB adalah hal yang tidak bisa ditawar, dan serangan terhadap mereka merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional serta dapat digolongkan sebagai kejahatan perang.
“Indonesia mendorong PBB untuk melakukan investigaasi yang transparan, mendalam, dan akuntabel guna mengungkap fakta serta memastikan adanya pertanggungjawaban atas insiden ini,” katanya.
Dengan gugurnya Pramudia, Indonesia telah kehilangan empat personel militer yang bertugas di UNIFIL selama sebulan terakhir.
Pratu Farizal Rhomadhon tewas dalam serangan artileri pada 29 Maret dalam insiden yang sama yang melukai Pramudia merawatnya di ICU.
Pada 30 Maret, dua personel yakni Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Serma Muhammad Nur Ikhwan tewas saat mengawal konvoi pasukan.
Dalam serangan tersebut dari 29–30 Maret serta 3 April, tujuh prajurit TNI lainnya juga mengalami luka-luka.
Selain Indonesia, situasi memanas di Lebanon juga mengakibatkan tewasnya dua prajurit Prancis dari UNIFIL dalam serangan pada 18 April.