Harga Minyak Melambung, Ekonom Prediksi Defisit APBN Capai Rp149,6 Triliun

loading…

Kenaikan harga minyak mendekati USD100 per barel ini bisa mendorong defisit APBN terhadap PDB hampir mencapai 4%. FOTO/AP

JAKARTA – Kenaikan tajam harga minyak dunia karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah diperkirakan akan memberikan tekanan yang besar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Penutupan Selat Hormuz berpotensi membuat defisit fiskal melampaui batas yang sudah ditentukan oleh undang-undang.

“Kenaikan harga minyak hingga mendekati USD100 per barel ini bisa meningkatkan defisit APBN terhadap PDB mendekati 4%, melebihi angka 3% yang diatur dalam UU no. 17/2003 tentang Keuangan Negara,” kata Ekonom Indef Hakam Naja seperti dikutip pada Senin (9/3/2026).

Hakam menjelaskan, asumsi makro APBN 2026 menetapkan harga minyak di kisaran USD70 per barel. Tapi, setiap kenaikan USD1 per barel berpotensi menambah defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun.

Dengan harga minyak dunia yang sekarang ada di sekitar USD92 per barel, tekanan pada APBN diperkirakan mencapai kira-kira Rp149,6 triliun. Situasi ini berpotensi memperbesar defisit fiskal jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut dan mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Dia menilai pemerintah perlu menyiapkan beberapa langkah antisipasif jika harga minyak menembus USD100 per barel. Satu langkah yang perlu diambil adalah melakukan efisiensi anggaran negara secara signifikan dengan memprioritaskan pengeluaran yang terkait langsung sama kebutuhan dasar masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, pangan, energi, dan infrastruktur dasar.

MEMBACA  Rocket Pharmaceuticals menetapkan harga saham $12.50 untuk penawaran oleh Investing.com

Tinggalkan komentar