Jakarta (ANTARA) – Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat ditengah melambatnya ekonomi global yang dipicu oleh penggunaan kebijakan ekonomi sebagai alat geopolitik.
Saat menyampaikan Pernyataan Pers Tahunan Menlu 2026 di Jakarta pada Rabu, dia mencatat bahwa penggunaan kebijakan ekonomi sebagai alat geopolitik semakin meningkat, dengan perdagangan, investasi, dan teknologi yang semakin dijadikan instrumen dalam persaingan global.
“Dalam realitas baru ini, kekuatan ekonomi suatu negara tidak lagi hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi juga dari kemampuannya untuk bertahan dan beradaptasi,” ujar Menlu Sugiono.
Menurutnya, Indonesia tidak kebal dari realita dimana batas antara ekonomi dan keamanan semakin kabur, yang berakibat pada perlambatan ekonomi global.
Meski begitu, di tengah situasi ini, dia menegaskan bahwa Indonesia menjaga fondasi yang kokoh, yang ditandai dengan tingkat pertumbuhan di atas rata-rata global, inflasi yang terkendali, surplus perdagangan, dan realisasi investasi yang konsisten tinggi.
“Fondasi ekonomi yang stabil ini telah memperkuat posisi Indonesia di panggung global dan mendukung peran aktif Indonesia yang berkelanjutan,” katanya.
Menteri menekankan bahwa diplomasi ekonomi adalah inti dari diplomasi Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional.
Untuk itu, lanjutnya, Indonesia mengamankan tiga perjanjian kerjasama ekonomi besar dengan Kanada, Peru, dan Uni Ekonomi Eurasia pada tahun 2025.
Selain itu, untuk mengurangi kerentanan sistemik, Indonesia telah berkontribusi dalam memperkuat inklusi keuangan melalui mekanisme inovatif seperti Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Sistem pembayaran berbasis QR ini telah memfasilitasi transaksi lintas batas di beberapa negara, termasuk Malaysia, Thailand, Singapura, Cina, dan Jepang.
Indonesia juga akan menyelesaikan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa dan Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Mauritius.
Lebih lanjut, negara akan memastikan pelaksanaan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China 3.0, tambah Sugiono.
Dia juga mengatakan bahwa Indonesia akan mengimplementasikan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang dan mempromosikan kerjasama perdagangan dengan mitra baru di wilayah Afrika, seperti Rwanda.
“Diversifikasi mitra dilakukan dengan kesadaran akan kebutuhan untuk mengurangi risiko yang timbul dari volatilitas dan perlambatan ekonomi yang dihadapi mitra tradisional kita,” ujarnya.
Berita terkait: Pemerintah lanjutkan program paket ekonomi untuk jaga pertumbuhan
Berita terkait: Prabowo targetkan 60.000 koperasi desa pada akhir 2026
Berita terkait: Menlu Sugiono tekankan tingkatkan hubungan ekonomi dalam pertemuan dengan Erdogan
Penerjemah: Cindy Frishanti, Raka Adji
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026