Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) mendesak upaya konservasi yang lebih kuat untuk melindungi spesies mangrove langka Camptostemon philippinensis di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Spesies ini masuk dalam daftar terancam punah (Endangered) di Daftar Merah IUCN dan dilindungi oleh hukum Indonesia.
Mangrove atau bakau ini ditemukan di kawasan pesisir Pantai Lango dan Pulau Kowangan, Kabupaten Penajam Paser Utara. Peneliti BRIN, Istiana Prihatini, mengatakan keberadaan mangrove langka ini menunjukkan betapa pentingnya Teluk Balikpapan secara ekologis.
"Keberadaan C. philippinensis di Teluk Balikpapan membuktikan kawasan itu memiliki nilai keanekaragaman hayati yang signifikan dan perlu mendapat perhatian konservasi yang serius," ujarnya pada Minggu.
Menurut Prihatini, spesies ini menghadapi ancaman serius dari aktivitas manusia, seperti alih fungsi lahan, polusi, dan penebangan liar. Habitatnya terbatas di area mangrove yang relatif sempit, dekat dengan pemukiman penduduk, membuat spesies ini sangat rentan.
"Habitat C. philippinensis itu sangat terbatas. Kerusakan habitat bisa meningkatkan risiko kepunahan lokal," katanya memperingatkan.
Para peneliti juga menduga ada hubungan ekologis antara mangrove ini dengan bekantan (Nasalis larvatus), primata endemik dan dilindungi di Kalimantan. pengamatan lapangan menemukan bekas gigitan yang diduga dari primata pada daun mangrove, sementara nelayan lokal juga melaporkan melihat kelompok bekantan di dekat habitat mangrove ini.
Mangrove ini tumbuh di zona mangrove sekunder dengan tanah didominasi pasir dan banjir pasang surut, bersama spesies seperti Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Avicennia alba, Lumnitzera littorea, dan Xylocarpus granatum.
Tim peneliti merekomendasikan langkah konservasi yang lebih kuat, termasuk perlindungan habitat, restorasi area mangrove yang rusak, pelestarian materi genetik, dan konservasi secara ex-situ lewat budidaya tanaman.