Ahli Gizi Rekomendasikan Pangan Lokal Pengganti Susu Sapi untuk Anak

Jakarta (ANTARA) – Seorang ahli gizi di rumah sakit rujukan utama Indonesia menyatakan kebutuhan protein dan kalsium anak dapat dipenuhi lewat beragam pangan lokal, mengurangi ketergantungan pada susu sapi sekaligus mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang seimbang.

“Sumber pangan lokal Indonesia cukup kaya untuk memenuhi kebutuhan protein dan kalsium anak tanpa bergantung pada susu sapi,” ujar Mita Arini, ahli gizi klinis di Rumah Sakit Nasional Cipto Mangunkusumo.

Dalam percakapan dengan ANTARA di Jakarta pada Selasa, ia menyebut makanan seperti tempe, tahu, telur ayam, daging ayam, kacang-kacangan, serta ikan termasuk kembung, lele, dan teri merupakan alternatif protein yang kuat.

Makanan-makanan ini juga menyediakan kalsium, vitamin, dan mikronutrien esensial lain yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan anak yang sehat, tambahnya.

Mita mengatakan sayuran hijau termasuk daun katuk, bayam, dan brokoli juga dapat memberikan asupan kalsium yang berarti bagi anak-anak.

Sebagai pengganti susu, ia menyatakan susu kedelai yang difortifikasi bisa dipertimbangkan, asalkan memenuhi standar gizi dan dikonsumsi dalam jumlah yang tepat.

Susu sapi segar mengandung sekitar 3,2 gram protein per 100 mililiter, sementara susu kedelai menyediakan sekitar 3,5 gram. Susu almond hanya mengandung sekitar 0,6 gram.

Karena kandungan proteinnya yang rendah, susu almond sebaiknya tidak dianggap sebagai sumber protein utama untuk anak, kata Mita.

“Protein dari sumber hewani memiliki profil asam amino yang lebih lengkap dibanding protein nabati dan penting untuk mendukung pertumbuhan anak,” jelasnya.

Mita juga mengingatkan orang tua untuk tetap waspada terhadap kemungkinan alergi makanan saat memilih sumber protein dan kalsium pengganti susu sapi.

Reaksi alergi dapat mencakup ruam merah, gatal, atau biduran pada kulit, muntah, diare, kembung, batuk, atau sesak napas setelah mengonsumsi makanan pemicu alergi.

MEMBACA  Perekrut Menggunakan Metode Analog untuk Melawan Beban Aplikasi AI yang Berlebihan

“Pada beberapa anak, pembengkakan bibir atau kelopak mata serta rewel berlebihan juga bisa terjadi,” ujarnya.

Mita menekankan pentingnya mengikuti pedoman gizi seimbang ‘Isi Piringku’ dari Kementerian Kesehatan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian.

Pedoman tersebut menganjurkan porsi seimbang dari karbohidrat, lauk-pauk kaya protein, sayuran, dan buah-buahan untuk memastikan kecukupan asupan vitamin dan mineral.

“Dengan perpaduan yang tepat dari pangan lokal, kebutuhan gizi anak tetap dapat terpenuhi secara optimal,” pungkas Mita.

Berita terkait: Badan Pangan tingkatkan pangan lokal B2SA untuk turunkan stunting

Berita terkait: Masyarakat Papua diajak konsumsi pangan lokal atasi stunting

Berita terkait: Kementerian jamin pangan lokal dalam Program Makanan Gratis

Penerjemah: Sri DL, Rahmad Nasution
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar