Reformasi Transparansi dan Fundamental Ekonomi Kuat, Daya Tarik Investasi Indonesia Melesat

Jumat, 10 Juli 2026 – 17:45 WIB

Jakarta, VIVA – Meskipun pasar keuangan global sedang tidak pasti, Indonesia masih dianggap menarik untuk investasi jangka panjang.

Fundamental ekonomi yang kuat, pasar domestik yang besar, serta reformasi transparansi di pasar modal, adalah beberapa faktor yang membuat investor percaya pada prospek ekonomi Indonesia.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan bahwa kondisi pasar saat ini harus dilihat secara menyeluruh. Kita perlu mempertimbangkan fundamental ekonomi nasional, kinerja perusahaan yang tercatat di bursa, dan berbagai reformasi yang sedang dilakukan oleh regulator dan Self-Regulatory Organizations (SRO).

“Langkah reformasi yang dilakukan regulator dan SRO adalah bagian dari komitmen untuk meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, dan membangun pasar modal yang lebih kredibel,” kata Jeffrey dalam keterangannya, Jumat, 10 Juli 2026.

“Dengan fundamental ekonomi dan korporasi yang tetap kuat, kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun global dalam jangka panjang,” ujarnya.

Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia punya beberapa keunggulan struktural yang bisa menjadi motor pertumbuhan jangka panjang. Dengan penduduk lebih dari 284,4 juta jiwa, bonus demografi, dan kekayaan sumber daya alam strategis seperti nikel, tembaga, emas, gas alam cair (LNG), dan minyak kelapa sawit, Indonesia punya peran penting dalam rantai pasok global. Di tingkat internasional, Indonesia juga aktif sebagai anggota G20, BRICS, dan salah satu pendiri ASEAN.

Kinerja ekonomi nasional masih menunjukkan ketahanan. Pada kuartal I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen, didorong oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, belanja pemerintah yang terjaga, serta peningkatan aktivitas investasi.

Berbagai indikator makroekonomi juga menunjukkan kondisi yang positif, seperti aktivitas manufaktur yang masih di zona ekspansif, surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan, serta realisasi investasi yang terus meningkat.

MEMBACA  Cara Maksimalkan Daya Panel Surya Portabel: 11 Tips untuk Tambahan Daya Hingga 30%

Kondisi ini juga mendukung pasar modal Indonesia. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa kali terkoreksi sepanjang tahun 2026, aktivitas perdagangan di BEI tetap kuat. Aktivitas investor juga terjaga di tengah volatilitas pasar global.

Di sisi lain, koreksi IHSG membuat valuasi pasar saham Indonesia jadi lebih kompetitif dan menarik. Per 8 Juni 2026, IHSG diperdagangkan pada Price Earnings Ratio (PER) sekitar 12,85 kali. Selain itu, sebanyak 434 saham tercatat memiliki Price to Book Value (PBV) di bawah satu kali. Kondisi ini memberi reuang bagi investor yang berorientasi pada investasi jangka panjang dan suka analisis fundamental.

Tinggalkan komentar