Keluarga seorang pria yang tewas ditembak oleh petugas imigrasi (ICE) di Texas menuntut investigasi atas kejadian tersebut. Permintaan ini disampaikan pada hari Rabu, sehari setelah seorang agen ICE menembak mati Lorenzo Salgado Araujo di Houston saat penghentian lalu lintas. Peristiwa ini menjadi kematian terbaru yang mendapat sorotan dalam aksi penangkapan massal imigran di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Keluarga Salgado Araujo mengatakan dia sedang bekerja saat tewas, mengantarkan kru ke lokasi pembangunan rumah di daerah tersebut. Mereka menjelaskan bahwa ia mungkin ketakutan dan mengira orang-orang dari mobil tidak bertanda yang menghentikannya berniat mencuri peralatan kerjanya.
Lebih lanjut, mereka mengatakan warga negara Meksiko itu sudah tinggal di AS selama 35 tahun dan sedang mengurus status legalnya. Dia tidak punya catatan kriminal dan bekerja keras menghidupi ketiga putranya di AS, yang semuanya merupakan warga negara AS. "Dia tidak pantas mati. Dia tidak pantas hanya dijadikan headline ‘Pria Meksiko ditembak dan dibunuh ICE’," kata putranya, Ronaldo Salgado, saat konferensi pers. "Dia layak hidup tenang sebagai Lorenzo Salgado Araujo, seorang suami, seorang ayah, dan pencipta lapangan kerja bagi puluhan pria yang juga menginginkan impian Amerika."
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyatakan bahwa Salgado Araujo mencoba menabrak agen ICE, yang kemudian melepaskan tembakan. Sebelum itu, mereka mengklaim mobil Salgado memang sudah menabrak kendaraan ICE. Belum ada video atau gambar kejadian yang dirilis, meskipun ada saksi yang merekam situasi pascapenembakan. DHS mengatakan Salgado Araujo menjadi target agen karena ia tinggal di AS tanpa dokumen.
Meskipun awalnya pemerintahan Trump mengatakan hanya akan menargetkan penjahat dalam aksi deportasi massal, mereka segera menyatakan bahwa siapa pun di AS tanpa dokumen dianggap sebagai penjahat. Masuk secara ilegal ke AS adalah pelanggaran perdata, bukan pidana.
Kelompok hak asasi manusia menuduh agen imigrasi menggunakan teknik penangkapan serampangan di bawah tekanan untuk memenuhi kuota tahanan. Pemerintahan Trump membantah adanya kuota semacam itu. Dalam konferensi pers pada hari Rabu, Presiden Liga Warga Amerika Latin Bersatu, Roman Palomares, mengatakan bahwa penindakan imigrasi telah menciptakan kondisi di mana "musim terbuka bagi orang Latin" oleh petugas yang merasa bisa "tembak dulu, jelaskan nanti."
Awal kejadian di Texas ini mirip dengan kematian Renee Nicole Good di Minneapolis, Minnesota pada Januari lalu. Petugas DHS awalnya mengatakan Good, warga negara AS, sedang mencoba menabrak agen ICE saat ditembak mati, meskipun video tampak menunjukkan ia sedang memutar setir untuk menghindari agen, yang melepaskan tembakan setelah minggir dari sisi mobilnya. Beberapa hari kemudian, Alex Pretti yang berusia 37 tahun ditembak mati oleh agen Patroli Perbatasan dengan seorang petugas Bea Cukai saat mencoba mendokumentasikan tindakan penegakan imigrasi di Minneapolis.
Hanya sedikit detail yang terungkap dari penyelidikan federal atas kematian tersebut, yang terjadi di tengah peningkatan penindakan di kota itu. Dalam langka yang jarang, Departemen Kehakiman AS menolak untuk melakukan penyelidikan hak-hak sipil terpisah atas kematian Nicole Good.
"Bekerja untuk Memberi Kami Impian Amerika"
Dalam keterangannya, Ronaldo Salgado bercerita tentang bagaimana dia mencari ayahnya di lokasi proyek dengan panik setelah ibunya mendapat kabar ada sesuatu yang buruk terjadi. Dalam pencariannya, dia diperlihatkan video ayahnya yang sudah terluka parah. "Saya mengenalinya, bukan dari penampilannya, tetapi dari suara tangisnya minta tolong saat terbaring di jalan," ujar Salgado.
"Setelah hampir 35 tahun bekerja untuk memberi kami impian Amerika, dia akhirnya memilih untuk memulai proses mendapatkan statusnya sendiri melalui izin kerja," kata Salgado. "Kami meneliti setiap detail, mengisi semua dokumen, dan menghadiri setiap janji. Dia sudah dekat dengan status legalnya."
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum juga mengecam pembunuhan itu dan menyatakan sedang mempertimbangkan tindakan hukum atau naik banding ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. "Terjadi lagi kematian tragis warga kita di AS akibat masalah operasi detensi, padahal satu-satunya ‘kesalahan’ yang dilakukan hanyalah belum memiliki dokumen yang resmi," ujar Sheinbaum. Penembakan ini setidaknya adalah kematian kedelapan yang diketahui akibat pertemuan dengan petugas imigrasi federal sejak dimulainya penindakan imigrasi kebijakan Trump.