Perang Telur di Program Makan Siang Sekolah India: Kisah dari Bengal Barat

Beberapa pihak berpendapat bahwa bahan pengganti seperti kedelai atau kacang merah, yang disarankan oleh seorang pejabat Iskcon, tidak banyak dikonsumsi di negara bagian tersebut dan mungkin sulit diterima oleh para siswa.

Sebagian politikus dan aktivis mengusulkan jalan tengah: biarkan siswa memilih antara telur dan makanan vegetarian pengganti.

Telur sudah lama dianggap sebagai salah satu sumber protein berkualitas tinggi yang paling murah dan efisien. Harganya sekitar delapan rupee per butir dan sudah menjadi bagian dari budaya kuliner Benggala selama beberapa generasi.

Membela keputusan ini, Kepala Menteri Suvendu Adhikari mengatakan bahwa program ini bertujuan menyediakan “makanan yang baik dan murni” bagi para siswa.

“Anda tidak perlu mengucapkan Hare Krishna. Tidak ada yang akan memaksa Anda,” ujarnya, membantah kritik bahwa langkah ini didorong oleh ideologi nasionalis Hindu dari BJP.

Iskcon mengatakan bahwa kritik tersebut tidak tepat. Melalui Yayasan Akshaya Patra yang didirikannya, Iskcon menyediakan makanan sekolah bagi sekitar satu juta siswa di 16 negara bagian, termasuk Karnataka, Andhra Pradesh, Gujarat, dan sebagian Delhi.

Radharaman Das, yang menjabat sebagai wakil presiden Iskcon Kolkata hingga minggu lalu, mengatakan kepada media setempat bahwa organisasi tersebut sangat berhati-hati memastikan makanannya bergizi dan higienis.

Ia menyebut bahwa menu vegetarian akan memberikan protein dan vitamin yang cukup untuk menyamai nilai gizi telur.

Sejak saat itu, Das telah dicopot dari jabatan organisasinya, meskipun Iskcon belum secara terbuka menjelaskan keputusan tersebut.

BBC telah menghubungi Iskcon untuk meminta komentar lebih lanjut.

Perseteruan ini kembali menyoroti skema makanan sekolah di India.

Diluncurkan secara nasional pada tahun 1995 dan berakar dari program pemberian makanan sekolah yang dimulai di Madras pada tahun 1925, program ini kini telah berkembang menjadi salah satu yang terbesar di dunia melayani lebih dari 110 juta anak-anak.

MEMBACA  Dari Kemacetan RS hingga Panggilan Baru di Tiongkok

Pemerintah federal menetapkan target kalori dan protein, namun masing-masing negara bagian menentukan cara untuk mencapainya. Akibatnya, tidak ada menu nasional yang seragam, dan makananpun berbeda-beda di setiap daerah.

Di Bihar, anak-anak biasanya diberi nasi dengan kacang-kacangan atau buncis ditambah telur seminggu sekali. Di Tamil Nadu, makan siang sekolah sering kali mencakup nasi , sambar, sayuran dan telur.

Negara bagian lain hanya menyajikan makanan vegetarian. Di Gujarat, Uttar Pradesh dan Delhi, menu biasanya berupa hidangan nasi atau gandum dengan kacang-kacangan dan sayuran, terkadang disertai susu, paneer (keju cottage), atau buah.

Cara penyusunan makanannya juga berbeda.

Di banyak sekolah negeri, makanan dimasak di tempat oleh staf yang ditugaskan. Di tempat lain, pemerintah negara bagian mengontrak organisasi nirlaba untuk menyiapkan dan mendistribusikan makanan yang mememenuhi standar gizi ynag ditentukan serta menu negara bagian.

Selama hampir satu dekade, siswa di sekolah negeri di Kolkata mendapat telur di hari-hari tertentu dalam seminggu lengkap dengan nasi, kacang-kacangan dan sayuran. Sekarang , hal itu kemungkinan besar akan berubah”

Tinggalkan komentar