Indonesia ingin menjadi pusat pengobatan canggih berbasis sel dan gen, atau yang dikenal dengan Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP), di kawasan Asia-Pasifik. Caranya adalah dengan memperluas penggunaan terapi sel punca dan menerapkan standar produksi yang baik atau Good Manufacturing Practices (GMP).
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, mengatakan bahwa target ini didorong oleh pesatnya perkembangan terapi gen, terapi sel, dan terapan asam ribonukleat di dunia. Saat ini, ada 4.164 produk ATMP yang sedang dikembangkan di seluruh dunia, dan 148 di antaranya sudah disetujui di berbagai negara.
Ikrar menyampaikan hal ini di Jakarta pada Sabtu. Ia menambahkan bahwa pasar global ATMP diperkirakan naik drastis dari 41,46 miliar dolar AS pada tahun 2026 menjadi 86,76 miliar dolar AS pada tahun 2031.
“Tren ini menunjukkan bagaimana pengobatan regeneratif membentuk masa depan layanan kesehatan. Indonesia harus siap menjadi bagian dari perubahan ini. Caranya dengan membangun sistem regulasi yang mudah beradaptasi, tanpa mengorbankan keselamatan pasien,” kata Ikrar.
Ia menekankan, untuk menjadi pemain utama ATMP di kawasan, Indonesia perlu membangun lingkungan yang mendukung riset dan pengembangan industri, sekaligus memperbaiki aturan dan menjalin kerja sama internasional.
Ia juga menjelaskan, tantangannya bukan hanya mendorong inovasi ilmiah, tetapi juga memastikan setiap produk punya bukti ilmiah yang kuat untuk menjamin keamanan, khasiat, dan kualitasnya.
“Banyak terapi inovatif yang masih terhambat waktu penyelidikan ilmiah masih kurang, tidak ada standarisasi takaran, proses produksi tidak konsisten, dan tidak ada pengawasan keamanan jangka panjang setelah dipakai publik,” tambahnya.
Untuk mengatasi masalah ini, BPOM sedang memperkuat aturan nasional agar sesuai dengan standar internasional dalam pengembangan terapi berbasis sel. Ikrar menyebut bahwa BPOM sudah mengeluarkan peraturan tentang penilaian ATMP pada tahun 2025.
Ia juga mengungkapkan, Indonesia punya lima fasilitas sel punca bersertifikat GMP yang mengembangkan produk baru. Selain itu, ada 43 fasilitas lain yang sudah mendapat bimbingan dari BPOM supaya penuhi standar GMP.
BPOM juga mengembangkan model kerja sama tiga pihak. Universitas akan melakukan riset, perusahaan akan menangani produksi, dan pemerintah yang menjaga standar keselamaan, khasiat, dan kualitas.
Ikrar menambahkan bahwa BPOM sudah menjalin kerja sama dengan 186 perguruan tinggi di Indonesia untuk mendukung inovasi. Dukungan juga diberikan oleh 270 pabrik farmasi yang sudah punya sertifikat GMP.
Terakhir, ia menekankan kesiapan BPOM untuk menarik investasi dan memperkuat kerja sama internasional demi mempercepat perkembangan pengobatan regeneratif di Indonesia.