Pemerintah sudah menyalurkan 4,77 juta ton pupuk bersubsidi ke seluruh Indonesia hingga 26 Juni 2026. Jumlah itu mencapai 48,5 persen dari total alokasi tahun ini sebesar 9,84 juta ton. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan.
Meski trennya positif, ia menegaskan pemerintah tetap berkomitmen memperkuat koordinasi dan memperbaiki pengelolaan pupuk bersubsidi. Tujuannya supaya penyaluran tepat sasaran dan hasil pertanian meningkat.
“Pupuk harus tersedia sebelum masa tanam agar proses bercocok tanam tidak terganggu dan produktivitas pertanian tetap terjaga,” kata Zulkifli dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat.
Menteri itu kemudian merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2025 tentang subsidi pupuk. Aturan itu mewajibkan berbagai langkah untuk meningkatkan efisiensi industri, memperkuat transparansi, memastikan pasokan berkelanjutan, serta mempercepat distribusi ke petani.
Dalam kerangka aturan tersebut, pemerintah mengalokasikan 9,55 juta ton pupuk bersubsidi untuk pertanian lahan dan 295.686 ton untuk sektor perikanan.
Zulkifli menyampaikan hal itu dalam forum yang dihadiri 300 petani dan 100 nelayan di Mamuju, Sulawesi Barat. Di provinsi tersebut, sudah disalurkan 37.773 ton pupuk bersubsidi dari total kuota 77.367 ton.
Ia juga memastikan pemerintah akan menegakkan harga eceran tertinggi baru untuk pupuk bersubsidi, yang sudah turun 20 persen sejak 22 Oktober tahun lalu.
Selain itu, ia menekankan pentingnya sinergi yang lebih kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, badan usaha milik negara, dan petani. Tujuannya supaya pupuk bersubsidi tetap terjangkau dan produktivitas pertanian meningkat di tengah tantangan global.
Presiden Prabowo Subianto sudah meminta Indonesia memperluas produksi pupuk. Ini terutama untuk memastikan pasokan dalam negeri yang cukup sebagai bagian dari program swasembada pangan.
Zulkifli mengatakan strategi itu sudah memberikan hasil baik. Bahkan Indonesia sudah menyepakati ekspor 250.000 ton pupuk ke Australia dalam lima tahun ke depan. Pengiriman pertama sebanyak 47.250 ton sudah tiba di Brisbane pada 22 Juni.