Trump Pilih Jay Clayton, Jaksa AS, sebagai Dirjen Intelijen Nasional | Kabar Donald Trump

Nominasi tersebut muncul saat protes merebak pasca-pilihan Donald Trump atas Bill Pulte sebagai pejabat sementara lembaga itu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencananya untuk menominasikan jaksa federal Jay Clayton sebagai direktur intelijen nasional (DNI) yang baru.

Pengumuman yang digazet pada Kamis itu berlangsung di tengah resistansi terhadap penunjukan Bill Pulte sebagai direktur interim untuk mengawasi komunitas intelijen AS yang luas, menyusul pengunduran diri Tulsi Gabbard dari jabatan tersebut.

Loyalis Trump, Pulte, yang merupakan kepala Badan Pembiayaan Perumahan Federal, tidak memiliki pengalaman militer maupun intelijen.

Partai Demokrat berjanji akan menahan penggunaan kekuasaan intelijen asing jika Trump tidak menunjuk DNI baru, sementara beberapa Republik mendesak presiden untuk mengubah arah.

Meski Pulte hannya dipilih untuk kapasitas sementara, ia secara teknis dapat menjabat selama 210 hari setelah dilantik. Dengan tak secara resmi dinominasikan, ia pun sejatinya terhindar dari proses konfirmasi Senat.

Dalam unggahan di akun Truth Social miliknya, Trump memuji Clayton, yang saat ini menjabat sebagai jaksa AS untuk Distrik Selatan New York dan mantan ketua Komisi Sekuritas dan Bursa.

“Di komunitas hukum, tak banyak tokoh yang dihormati setara dengan Jay,” tulis Trump. “Saya mendorong Senat AS untuk segera mengonfirmasi Jay.

Konfirmasi Clayton memerlukan suara mayoritas di Senat AS, di mana Republik saat ini menguasai 53 dari total 100 kursi.

Nominasi ini muncul hanya sehari setelah Trump, dalam posting-an di Truth Social, mengininormasikan Pulte untuk memotong jumlah staf di kantor yang mengoordinasikan 18 agensi intelijen, termasuk CIA dan NSA.

Gabbard, yang dulunya politisi Demokrat dan mendukung Trump menjelang Pilpres 2024, bulan lalu mengumumkan pengunduran dirinya dengan alasan sang suami sedang menjalani perwatan kanker.

MEMBACA  Mantan pemimpin Afrika Selatan Zuma berjanji pekerjaan dan pendidikan gratis saat meluncurkan manifesto partainya.

Ia awalnya mendukung Trump karena posisinya yang menentong kampanye intervensi militer. Namun, ia tetap menjadi pendukung public sang presiden meskipun aksi AS yang dalam rangka menculik pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, serta perang dengan Iran tampak menggerogoti isitar diri ideologis dari garis anutan-idealismenya tersebut.

Tinggalkan komentar