Pemerintahan Iran mungkin bertanya-tanya: apa benar ada kesepakatan buat perpanjang gencatan senjata dengan Amerika Serikat yang terlalu bagus buat jadi kenyataan?
Meski perundingan masih berjalan dan detail penting masih harus dirampungin, garis besar kesepakatan termasuk Iran buka kembali Selat Hormuz dan biarin kapal lewat tanpa bayar tol, kata sumber ke Axios. Sebagai gantinya, AS akan angkat blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran dan kasih keringanan sanksi, yang memungkinkan Tehran jual minyak secara terbuka.
Tapi masalah yang paling rumit harus diselesain dalam masa 60 hari perundingan. Itu termasuk uranium Iran, juga AS untuk selamanya akhiri sanksi dan lepas aset beku Iran di luar negeri, yang nilainya sekitar $25 miliar.
AS juga bakal pertahankan kehadiran militernya di wilayah itu dan baru tarik mundur begitu kesepakatan final tercapai, kata Axios. Tapi Trump tetap bakal keilangan pengaruh yang cukup besar.
“Salah satu masalah dari pendekatan ini dan memutuskan untuk ngurusin masalah nuklir nanti, adalah menghapus sanksi pada ekspor minyak Iran sekarang akan nurunin, bukan naikin, motivasi Iran buat capai kesepakatan nuklir,” kata Eric Brewer, mantan direktur Dewan Keamanan Nasional untuk kontra-proliferasi, di X. “Juga, dengan mengaitkan sanksi itu sama Selat, lo jadi keilangan kemampuan buat nerapin sanksi lagi tanpa risiko besar Iran kuasai lagi jalur air itu.”
Laporan soal AS dan Iran mendekati perpanjangan gencatan senjata bikin beberapa Republik terkejut, mana yang takut Trump mau kasih terlalu banyak.
Senator Lindsey Graham, dari South Carolina, miletin kesepakatan yang secara efektif mengakui kemampuan Tehran kuasai selat itu. Dia bilang itu bakal jadi perubahan besar dalam keseimbangan kekuasaan regional dan akhirnya bakal jadi “mimpi buruk” buat Israel.
Begitu juga dengan Senator Roger Wicker, dari Mississippi, bilang perpanjangan 60 hari itu bakal bencana, dan “Semua yang tercapai oleh Operasi Epic Fury bakal sia-sia!” Senator Ted Cruz, dari Texas, juga nurutin omongan serupa.
“Kalau hasil dari semua itu adalah pemerintahan Iran — masih dijalanin sama Islamis yang neriak-in ‘mati buat Amerika’ — terima miliaran dolar, bisa ngelakuin pengayaan uranium dan buat senjata nuklir, dan punya kendali efektif atas Selat Hormuz, akibat itu bakal jadi keselahan besar yang ngenes,” katanya di X.
Walaupun pengeboman AS-Israel menghancurin jurus militer sama prekonomian Iran, Tehran masih punya cukup kekuataan kombat buat tetep nutup Selat Hormuz, pake rudal, drone, banyak dengan kapal cepat.
Sementara itu, Trump udah kasih tanda gak mau lanjut serangan dan melanggar gencatan senjata, sambil dia juga motongin pendek usaha buat hidupin lagi lalu lintas Hormuz pake kapal perang AL buat jaga kapal tanker.
Ketika Iran nganyang perekonomian global dengan hidup matinya minyak di pasar yang mau bikin pusing tinggal berhari saja buat migu-imigupan berikutnya, negara ini ketua itula tetap aja keras dipermintake ter’itung pada. Wamereka anti kata nelasih mayang di turunankan yang macetuk di ma.
Tapi walawpe pamatapan gi tunung ineyi pun deng’an se eng i akan ampai kin apoa calik US pnya ojountie ta p tiada pa ak dapat sendiri bliang pam pat tot tulu nan paci baroo ini atau lagi saat 30 hari lagai,” sampai vah yang ten pam ak Un*@pu tat ti dpul carTent i dehat tutug bal? na lama ses inaupe n pihax dengan netau to sada up patok pat.”