Yang paling menonjol, komentator politik Tucker Carlson, dulunya salah satu pendukung setia Trump, ungkapkan penyesalan atas dukunganya dulu untuk presiden. Dia bilang di April 2026, “Nggak cukup bilang, ya, aku berubah pikiran – atau kayak, oh, ini buruk, aku keluar.” Carlson ngomong dia bakal “tersiksa” karena dukung Trump “untuk waktu yang lama” dan dia “menyesal udah menyesatkan orang.”
Kegelisahan yang bertambah sama pemerintahan Trump di antara mantan sekutu ini datang bersamaan dengan polling terburuk dalam karir Trump. Menurut data dari pollster G. Elliott Morris, popularitas Trump terus menurun setahun terakhir. Orang Amerika mulai ragu sama caranya menangani isu penting, kayak inflasi, imigrasi, lapangan kerja, dan urusan luar negeri.
Tapi selain mantan sekutu Trump yang terkenal, apakah ada pendukung Trump lain yang menyesal dengan pilihan mereka di pemilu 2024? Untuk jawab ini, kami lakukan poll nasional ke 1.000 orang dewasa AS yang diambil dari panel online YouGov, sebuah perusahaan riset.
Kami tanya pemilih Trump soal suara mereka di 2024. Hasilnya menunjukkan bahwa makin banyak dari mereka – terutama yang moderat, orang Afrika-Amerika, dan anak muda – mengalami penyesalan pemilih.
Di poll kami, kira-kira sepertiga dari pemilih moderat dan Afrika-Amerika yang milih Trump di 2024 bilang mereka bakal milih beda kalo pemilu diulang. AP Photo/George Walker IV, File
Dukungan buat Trump masih kuat
Untuk jelasnya, survey kami nunjukin mayoritas pemilih Trump masih di pihak presiden.
Kami temukan 84% pemilih Trump 2024 bilang mereka bakal milih Trump lagi kalo bisa milih ulang di 2024. Itu turun 2 poin persen sejak kami tanya soal ini di Juli 2025.
Lebih dari 90% anggota basis inti pemilih Trump – termasuk 93% pemilih Republik yang milih Trump, 95% pemilih konservatif yang milih Trump, dan 92% pemilih Trump di atas 55 tahun – bilang mereka bakal milih Trump kaya di 2024 kalo dikasih kesempatan kedua.
Pemilih Trump yang nyesel
Tapi beberapa kelompok pemilih Trump mulai berpikir ulang. Yang paling nyesel adalah mereka yang Trump menang banyak di 2024. Ini termasuk independen, Afrika-Amerika, anak muda, dan yang pendidikan lebih tinggi.
Kira-kira 3 dari 10 pemilih Trump yang moderat dan Afrika-Amerika bilang mereka bakal milih beda kalo pemilu diulang. Dan sekitar seperempat pemilih Trump muda dan setengah baya juga bilang mereka nggak bakal pilih Trump kalo bisa ulang suara.
Dua puluh persen pemilih Trump dengan gelar pascasarjana nyatain keengganan untuk milih Trump kalo dikasih kesempatan kedua. Pemilih dengan pengalaman kuliah dan yang berpenghasilan di bawah $40.000 per tahun juga alami hal yang sama dengan persentase serupa.
Mungkin yang paling berbahaya secara politis, 31% independen yang milih Trump di 2024 nggak bakal pilih dia lagi kalo pemilu diadakan ulang.
Penduduk Kota New York nonton Trump bicara sementara suara dihitung untuk pemilu presiden pada 6 Novemer 2024. Fatih Aktas/Anadolu via Getty Images
Retak di koalisi
Apa yang bikin pemilih Trump menjauh dari presiden?
Nggak ada satu penyebab, tapi hasil kami nunjukin persepsi negatif tentang kinerja Trump di isu-isu besar memainkan peran penting. Sebagian besar pemilih Trump yang ngasih nilai jelek ke presiden soal ekonomi (22%), berkas-berkas Epstein (37%) dan perang Iran (49%) bilang mereka nggak bakal pilih dia kalo pemilu diulang.
Hasil ngasih tau bahwa retakan mulai muncul di koalisi Trump dan itu terkonsentrasi di kelompok yang sebelum 2024 cenderung nggak milih presiden.
Trump mungkin bisa senang karena pendukung setianya tetap setia. Tapi di pemilu ketat, setiap suara penting, dan ketidakpuasan yang berlanjut bisa menghalangi kemampuan Republik untuk menggerakkan pemilih kunci.
Saat Republik hadapi pemilih di pemilu tengah semester mendatang, Trump dan GOP harus kerja buat dapetin lagi dukungan dari pemilih yang nyesel. Kalo gagal, bisa bikin Republik kalah di DPR tahun 2026, dan pada akhirnya, kalah di pilpres 2028.
Tatishe Nteta, Provost Professor of Political Science, UMass Amherst; Adam Eichen, Kandidat Ph.D. di Ilmu Politik, UMass Amherst, dan Jesse Rhodes
Habis