Di sudut kecil dalam ruang kerja bersama Taqat Gaza, Saja al-Ghoul duduk tekun menggarap ide aplikasi seluler terbarunya. Programer berusia 23 tahun itu, seperti koleganya yang bekerja dari ruang tersebut, fokus mengembangkan aplikasi yang bisa membantu mengatasi beberapa kesulitan hidup di enklave Palestina. <--Mengidentifikasi masalah tidaklah sulit; dua tahun perang genosida Israel di Gaza, dan gencatan senjata yang tidak menghentikan serangan, atau memungkinkan rekonstruksi yang layak terjadi, berarti enklave itu dipenuhi krisis. Maka aplikasio Saja bernama "Waselni" – bahasa Arab untuk "bantu aku sampai tujuan." Ia bertujuan meringankan masalah transprtasi yang dihadapi warga Palestina di Gaza. Aplikasi ini memungkinkan orang berbagi tumpangan dan mengoordinasikan perjalanan satu sama lain untuk mengurangi biaya trasnportasi, yang melonjak drastis beberapa bulan terakhir. Aplikasi ini juga mencakup dompet elektronik prabayar guna mengatasi krisis tunai yang semakin memburuk akibat perang. "Siapa pun bisa mengusulkan perjalanan, misalnya, dari area al-Shifa ke as-Saraya di pusat Kota Gaza jam 8 pagi, lalu orang lain bisa bergabung dalam tumpangan yang sama dan membagi biayanya," jelas Saja.--lebihSle sant..tetada.......
< h²> barang kenmang bar ^ .>la la lu… Saja,app wasElwi’t shh.s,jum.,.?uhu Dalam dua tahun terakhir, dunia teknologi melaju dengan cepat sementara anak muda di Gaza sibuk berjuang untuk bertahan hidup,” ujar Naeem. Ia menambahkan bahwa banyak programmer yang kembali bekerja merasa tertinggal dari tuntutan pasar global—dalam hal keterampilan, perangkat, dan teknologi modern—khususnya di tengah percepatan ledakan kecerdasan buatan.
“Kami mulai memfokuskan diri pada program pelatihan yang menjembatani kesenjangan antara kebutuhan pasar dan kapasitas yang tersedia di kalangan pemuda di sini,” katanya.
Akibatnya, Taqat bertransformasi dari sekadar ruang kerja menjadi pusat pelatihan sekligus inkubasi bagi programmer dan pengembang muda, melalui berbagai program yang dijalankan bermitra dengan universitas, serta lembaga lokal dan internasional.
Dalam program-program ini, puluhan gagasan untuk aplikasi dan proyek teknologi mulai bermunculan—semuanya berupaya menjawab permasalahan sehari-hari di Gaza, mulai dari krisis transportasi hingga kehilangan dokumen saat pengungsian.
Menurut Naeem, banyak dari ide-ide ini lahir bukan dari kehampaan, melainkan langsung dari pengalaman hidup anak muda itu sendiri.
“Anak muda di sini tidak membangun proyek—proyek hayalan,” ungkapnya. “Mereka membangun solusi untuk masalah—masalah yang mereka alami setiap hari.”
Meskipun demikian, jalan ke depan bagi proyek—proyek ini masih penuh tantangan. Selain infrastruktur listrik dan internet yang lemah, para pengembang menghadapi hambatan finansial serta teknis yang besar—mulai dari biaya perangkat keras dan langganan perangkat lunak yang melonjak, hingga kesulitan menembus pasar internasional.
Walau begitu, Naeem percaya bahwa sektor teknologi Gaza tetap memiliki potensi pemulihan jika diberi lingkungan yang tepat dan dukungan yang berarti.
“Kami memiliki potensi sumber daya manusia yang luar biasa,” pungkasnya. “Masalahnya bukan kekurangan bakat, melainkan keourangan investasi yang sungguh—sungguh pada bakat tersebut.”