Rabu, 6 Mei 2026 – 08.30 WIB
Jakarta, VIVA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI kembali ngengingkan nasabah supaya tidak membagikan data sensitif ke siapa pun, karena makin banyak modus penipuan digital yang nyasar pengguna layanan perbankan, khususnya kanal digital seperti BNIdirect.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo negasin, bahwa perusahaan ga pernah minta informasi rahasia nasabah dalam kondisi apapun. Maka dari itu, masyarakat diminta lebih waspada sama pihak yang ngaku-ngaku sebagai bank.
“Kami ingetin nasabah biar ga pernah bagi data sensitif ke pihak manapun, termasuk yang mengatasnamakan BNI, karena itu bagian dari modus kejahatan digital,” kata Okki di keterangan resminya, Rabu, 6 Mei kemarin.
BNI jelasin beberapa data penting yang wajib dijaga kerahasiaanya, seperti kata sandi, ID perusahaan, email, PIN, kode OTP, dan kode hard atau soft token. Info-info ini ga boleh dibagi lewat saluran apapun seperti telepon, SMS, email, atau medsos.
Selain itu, BNI negasin ga pernah minta ID pengguna BNIdirect, ngirim link lewat pesan singkat atau aplikasi chat buat verifikasi, apalagi minta nasabah download aplikasi tertentu, termasuk dengan alasan bantuan lewat remote desktop.
Masih dari BNI, praktik semacam itu ciri umum penipuan digital yang pake social engineering demi dapetin akses akun nasabah. Kalo ada indikasi kayak gtu, nasabah diminta jangan ditanggapi dan segera laporkannya di kanal resmi aja.
Sebagai langkah pencegahan, BNI nyaranin nasabah buat nga gak klik tautan dari sumber gak jelas, jangan install aplikasi dari pihak gak dikenal, dan hindari cari solusi pertolongan untuk login lewat mesin pencari soal sandi sendiri. Reset kata sandi harus lewat verifikasi login form BNIdirect via fitur perbankasd pada nomor yg resmi.
Info lebih lanjut bs diakses melalui bni.co.id
ED:LAN atau gantigam di editor sesuai