Meta sudah balik lagi ke pasar stablecoin. Empat tahun setelah berhenti dari percobaan sebelumnya, perusahaan teknologi besar ini diam-diam sudah ngeluarin pembayaran pake mata uang digital buat kreator tertentu di Kolombia dan Filipina, menurut update di websitenya. Pembayaran ini bisa dipake di jaringan blockchain Solana dan Polygon, dan pake stablecoin USDC.
Kreator yang milih pembayaran stablecoin dari Meta bakal disuruh masukin alamat dompet crypto pihak ketiga mereka ke platform pembayaran Facebook. Meta gak bakal nyediain layanan buat convert USDC ke mata uang lokal. Meta juga kerja sama dengan Stripe buat laporan pajak khusus crypto buat pembayaran stablecoin ini, kata halaman web tersebut.
"Kita usahain buat nawarin metode pembayaran yang paling relevan, makanya kita lagi eksplor gimana stablecoin bisa jadi bagian dari pilihan kita," kata juru bicara Meta ke Fortune.
Juru bicara Stripe konfirmasi ke Fortune kalo mereka lagi kerja sama dengan Meta.
Peluncuran dari Meta ini terjadi setelah percobaan mereka yang gagal buat luncurin stablecoin sendiri lewat proyek bernama Libra (yang kemudian ganti nama jadi Diem), yang ditinggalkan perusahaan pada 2022 setelah dapat tentangan dari anggota parlemen dan Kongres. Tahun lalu, perusahaan mulai eksplorasi ulang stablecoin di tengah lingkungan regulasi yang lebih bersahabat di bawah Presiden Donald Trump, seperti yang dilaporin Fortune sebelumnya. Meta juga udah ngeluarin permintaan bantuan buat proyek stablecoin mereka awal tahun ini.
"Masa depan pembayaran marketplace itu dibangun di atas infrastruktur blockchain kayak Polygon," kata CEO Polygon Labs Marc Boiron di pernyataan yang dibagikan ke Fortune, dan nambahin kalo program pembayaran stablecoin Meta diperkirakan bakal meluas ke lebih dari 160 negara pada akhir tahun.
"Solana udah muncul sebagai tempat default buat pembayaran skala internet," kata kepala produk Solana Foundation Catherine Gu di pernyataan ke Fortune.
Ledakan Stablecoin
Meta perusahaan besar terbaru yang integrasin stablecoin. Sejak awal tahun lalu di bawah adminstrasi Trump, perusahaan Big Tech kayak Airbnb, X, Apple, dan Google semuanya udah eksplor gimana cara masuin stablecoin ke teknologi pembayaran mereka’. Tapi, setelah Undang-Undang GENIUS disahkan di 2025, yang bikin kerangka regulasi buat stablecoin yang didukung dolar, perusahaan-perusahaan besar mulai gerak beneran.
Shopify mulai ngijinin merchant nerima pembayaran USDC, dan Western Union baru aja ngumumin rencana buat nawarin salah satu stablecoin di blockchain Solana. DoorDash sama startup blockchain pembayaran Tempo udah mulai kerja samsama buat ngijinin driver DoorDash dibayar pake stablecoin.
Meta ngumumin proyek Libra-nya pada Juli 2019, awalnya ngejual stablecoin open-source yang didukung beberapa perusahaan pembayaran, teknologi, dan venture capital. Mata uang ini tadinya bisa diakses miliaran pengguna Meta, yang banyak dari mereka punya akses terbatas ke layanan keuangan, tapi sejak awal proyek ini banyak dapat pengawasan ketat dari regulator. Proyeknya berenti di 2022, sekitar waktu yang Meta mulai alokasiin banyak sumber daya ke konsep realitas virtual yang disebut metaverse.
Namun, masalah baru kali ini lebih cerah buat usaha crypto Meta, karena total jumlah stablecoin udah naik lebih dari seratus kali lipat sejak pertama kali mereka ngumumin Libra.
Update, 29 April 2026: Artikel ini udah diupdate dengan komentar dari Polygon, Solana, dan Stripe juga detail tentang proyek Libra si Meta.