“Kalau kita terus berjuang bersama, pemain masa depan tak perlu alami ini lagi,” ujar pemain Real Madrid itu.
Diterbitkan Pada 7 Apr 2026
Penyerang Real Madrid, Vinicius Junior, memuji pemain Barcelona, Lamine Yamal, karena secara terbuka mengkritik yel-yel anti-Muslim dalam pertandingan baru-baru ini. Vinicius menegaskan bahwa para pemain harus bersatu dalam perjuangan melawan diskriminasi.
Pernyataan Vinicius disampaikan Senin lalu, kurang dari seminggu setelah Yamal mengecam yel-yel dari suporter Spanyol dalam laga persahabatan melawan Mesir, Selasa pekan lalu. Yamal, yang beragama Islam, menyebut yel-yel tersebut tidak sopan dan tak bisa ditoleransi.
Vinicius, pemain internasional Brasil, kerap menjadi sasaran ejekan rasis saat bermain di Eropa dan vokal dalam perjuangan melawan rasialisme. Ia mengakui “selalu rumit” membahas topik ini, namun “hal-hal seperti ini sering terjadi.”
“Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan ini,” ujarnya.
“Penting bahwa Lamine berbicara. Itu bisa membantu orang lain. Kami terkenal, punya uang, bisa menanggung hal-hal ini dengan lebih baik. Tapi orang-orang miskin dan orang kulit hitam di mana-mana, pastilah lebih menderita daripada kami. Jadi kita harus bersatu, mereka yang punya suara lebih lantang, para pemain…”
Lamine Yamal (Barcelona) dan Vinicius Junior (Real Madrid) bermain untuk rival sepak bola Spanyol [Arsip: Reuters]
Vinicius menuduh pemain Benfica, Gianluca Prestianni, memanggilnya “monyet” setelah sang penyerang Brasil merayakan gol di depan suporter tuan rumah saat membobol gawang Benfica untuk Madrid dalam laga Liga Champions bulan lalu di Lisbon. Suporter Benfica juga menghina Vinicius dari tribun.
“Saya tidak mengatakan bahwa Spanyol, Jerman, atau Portugal adalah negara rasis, tetapi ada kaum rasis di negara-negara ini, juga di Brasil dan negara lain,” kata Vinicius. “Tapi jika kita terus berjuang bersama, saya pikir pemain masa depan dan masyarakat pada umumnya tak akan perlu mengalaminya lagi.”
Vinicius berbicara pada malam jelang leg pertama perempat final Liga Champions antara Madrid dan Bayern Munich di Santiago Bernabeu, Madrid.
Pekan lalu, Yamal yang Muslim mencela yel-yel “yang tak tertahankan” di RCDE Stadium dekat Barcelona, markas klub La Liga, Espanyol.
“[Yel-yel] itu ditujukan ke tim lawan dan bukan hal personal terhadap saya, tetapi sebagai seorang Muslim, itu tetap merupakan bentuk kurangnya rasa hormat dan sesuatu yang tak bisa ditoleransi,” tulis Yamal di Instagram.
“Bagi kalian yang menyanyikan hal ini: menggunakan agama sebagai bahan olok-olok di lapangan menunjukkan kalian itu bodoh dan rasis.”
Yamal, yang ayahnya pindah dari Maroko ke Spanyol, bersikap tegas terhadap para suporter.
“Saya tahu saya bermain untuk tim rival dan itu bukan hal personal terhadap saya, tetapi sebagai seorang Muslim, itu tetaplah tidak sopan dan sesuatu yang tak tertahankan.”
“Saya seorang Muslim. Kemarin di stadion, terdengar yel-yel ‘yang tidak melompat adalah Muslim’.”