Jakarta (ANTARA) – Dari kota hingga desa, jutaan orang melakukan perjalanan mudik Lebaran, tradisi Indonesia yang sangat kuat untuk pulang kampung merayakan Idul Fitri bersama keluarga.
Menurut Kementerian Perhubungan, total jumlah pemudik selama musim mudik Lebaran 2026 mencapai 147,55 juta orang di seluruh Indonesia.
Data kumulatif dari kementerian menunjukan bahwa 10.887.584 penumpang menggunakan transportasi umum mulai 13 Maret 2026 (delapan hari sebelum Lebaran) hingga hari raya.
Angka ini mencatatkan kenaikan sebesar 8,58 persen dibanding periode mudik 2025, yang sebanyak 10.027.482 penumpang.
Berdasarkan moda transportasi, jumlah penumpang kereta api merupakan bagian terbesar, yaitu 3.349.343 orang, naik 13,46 persen dari 2.952.055 pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, penumpang pesawat tercatat 2.397.192, mencerminkan peningkatan 2,95 persen dari 2.328.551 di tahun 2025.
Transportasi feri mencatatkan 2.664.004 penumpang, naik 14,01 persen dari 2.336.619, disusul transportasi bus dengan 1.693.931 penumpang, meningkat 9,37 persen dari 1.548.874.
Lonjakan di semua moda transportasi ini menegaskan bahwa perayaan Idul Fitri 2026, yang jatuh pada 21 Maret 2026, lebih dari sekadar tradisi; ini adalah mesin pertumbuhan ekonomi yang efektif.
Mesin ini mendorong manfaat dari daerah perkotaan ke daerah, menghidupkan kembali perekonomian lokal secara keseluruhan.
Para pemudik biasanya membawa “oleh-oleh”, seperti uang tunai dan hadiah, untuk dibagikan selama liburan.
Peredaran uang, yang biasanya terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Jakarta, bergeser secara masif ke daerah, menciptakan distribusi ekonomi yang lebih merata.
Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, mencatat bahwa periode Ramadan dan Lebaran akan mendorong pertumbuhan ekonomi tahunan menjadi antara 5,1 hingga 5,2 persen (year-on-year/YoY) pada kuartal pertama 2026.
Sementara itu, pemerintah Indonesia menetapkan target untuk memperoleh pertumbuhan sekitar 5,5 persen hingga 5,6 persen (YoY) pada kuartal I 2026, yang salah satunya diharapkan didukung oleh musim liburan Lebaran.
Pengeluaran untuk kebutuhan Lebaran—mulai dari baju baru, makanan, hingga hadiah untuk keluarga—berfungsi sebagai katalis utama. Selain itu, pengeluaran untuk transportasi, akomodasi, dan pariwisata semakin memperkuat aliran uang.
Sepanjang rute mudik, desa dan kota kecil berubah menjadi panggung ekonomi utama.
Restoran penuh, pasar tradisional hidup kembali, dan pemilik usaha kecil menikmati lonjakan pelanggan yang signifikan.
Menurut INDEF, konsumsi masyarakat yang meningkat selama Ramadan dan Lebaran dapat berkontribusi hingga 0,5 persen terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal pertama.
Konsumsi rumah tangga juga melonjak tajam, dengan perkiraan menunjukkan peningkatan 15–20 persen dibandingkan periode normal.
Lonjakan ini menetapkan Idul Fitri sebagai salah satu penggerak utama ekonomi domestik, mengingat struktur ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi.
Lembaga riset NEXT Indonesia Center melaporkan bahwa peredaran uang tunai untuk periode Lebaran 2026 mencapai Rp1.370 triliun.
Angka ini merupakan peningkatan 10,4 persen, atau Rp130 triliun, dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, dana yang dipegang di luar sistem perbankan mencapai Rp1.241 triliun, naik Rp104 triliun dari periode yang sama tahun lalu.
Volume uang tunai yang signifikan yang dipegang langsung oleh masyarakat mengindikasikan aktivitas ekonomi yang tinggi meluas ke berbagai daerah.
Dari sisi industri, pelaku usaha menilai Lebaran menawarkan momentum strategis untuk subsektor tekstil, alas kaki, makanan dan minuman, serta industri halal.
Pelaku industri bahkan telah meningkatkan produksi mereka dua bulan sebelum liburan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan. Khususnya di subsektor makanan dan minuman, pemanfaatan produksi mencapai sekitar 80 persen tahun ini.
Bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), liburan Lebaran ibarat musim panen yang dapat mendongkrak omset mereka secara drastis.
Kementerian UMKM menyatakan bahwa perayaan Lebaran tahun ini dapat mendorong penjualan pelaku usaha kecil hingga empat kali lebih tinggi dibanding hari biasa.
Fenomena ini terlihat jelas di tingkat lokal. Ketua Asosiasi Pengusaha Kue dan Kuliner Sumatera Selatan, Bunda Rayya, mencatat bahwa UMKM di Palembang mengalami lonjakan pesanan parsel Lebaran sejak awal Ramadan.
Tahun ini, peningkatan pesanan mencapai sekitar 40 hingga 50 persen, dengan mayoritas konsumen berasal dari Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya.
Selain konsumsi, sektor pariwisata juga mengalami dorongan, karena banyak orang memanfaatkan liburan sebagai kesempatan untuk bepergian bersenang-senang.
Destinasi wisata lokal dipadati pengunjung, membuka potensi besar bagi daerah untuk meningkatkan pendapatan.
Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UKM INDEF Nur Komaria mencatat bahwa dampak pada sektor pariwisata mencapai berbagai sektor pendukung, dari akomodasi dan makanan hingga transportasi lokal.
Aktivitas ekonomi ini tidak bersifat sementara; mereka berkontribusi untuk memperkuat ekosistem ekonomi daerah.
Selanjutnya, kelancaran arus mudik dan balik Lebaran merupakan faktor kunci untuk memastikan aktivitas ekonomi yang optimal.
Berbagai upaya, seperti menambah armada transportasi, menerapkan strategi manajemen lalu lintas, dan meningkatkan fasilitas, berperan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat.
Alhasil, para pemudik melaporkan bahwa perjalanan tahun ini lebih nyaman dan lancar.
Kelancaran perjalanan ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi. Semakin mudah orang berpindah, semakin besar peluang transaksi komersial.
Kebijakan kerja jarak jauh pemerintah—yang bertujuan mengurangi kemacetan—telah memungkinkan orang tinggal lebih lama di kampung halaman, sehingga memperpanjang periode peredaran ekonomi di daerah.
Idul Fitri 2026 menciptakan optimisme bahwa perekonomian Indonesia berada dalam posisi yang kuat. Mudik Lebaran berfungsi sebagai katalis untuk sirkulasi ekonomi alami dari kota ke desa.
Desa-desa yang biasanya sepi tiba-tiba menjadi pusat aktivitas ekonomi, sementara kota-kota terus diuntungkan dari lonjakan konsumsi menjelang liburan.
Di tengah tantangan ekonomi global, momentum ini berfungsi sebagai pilar vital bagi perekonomian nasional.
Dengan strategi yang tepat, Lebaran dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang melampaui sifat musimannya. Dari perjalanan jutaan pemudik, peluang usaha bermunculan, dan momentum ekonomi terus terbangun.
Berita terkait: Liburan Lebaran pacu perjalanan wisata, dorong ekonomi: Kemenparekraf
Berita terkait: Wisatawan lokal dorong ekonomi selama liburan Lebaran: Kemenparekraf
Berita terkait: Diskon transportasi & WFA pemerintah tingkatkan ekonomi Lebaran
Penerjemah: Ahmad Muzdaffar, Raka Adji
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026