Jakarta (ANTARA) –
Pemerintah telah memastikan bahwa energi nasional tetap aman di tengah gejolak global, terutama di tengah konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Staf Ahli Menteri ESDM, Satya Hangga Yudha Widya Putra, dalam pernyataannya pada Rabu, mengatakan dampak konflik ini dirasakan secara global, khususnya oleh negara-negara pengimpor minyak.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang mencakup sekitar 20 persen rute perdagangan minyak dan LNG global, telah menahan sekitar 150 kapal dan memicu ketidakpastian dalam pasokan energi dunia.
“Indonesia masih mengandalkan impor, dengan lifting sekitar 600 ribu barel per hari dan konsumsi mencapai 1,6 juta barel. Namun, stok BBM nasional tetap aman dan terkendali,” tegasnya.
Putra menambahkan bahwa pemerintah terus memastikan ketersediaan pasokan melalui produksi kilang dalam negeri yang berjalan dan diversifikasi sumber impor dari kawasan seperti Amerika Serikat, Amerika Latin, Afrika, dan Australia.
Menanggapi perbandingan dengan negara Asia lain, ia menjelaskan bahwa stok bahan bakar 27-28 hari tidak berarti Indonesia memiliki cadangan yang statis.
“Produksi dan impor berlanjut, jadi pasokan terjaga, bahkan saat harga global meningkat,” ujarnya.
Pemerintah juga memperkuat ketahanan energi dengan mengembangkan fasilitas penyimpanan minyak di Sumatra sebagai bagian dari program hilirisasi dan keamanan energi nasional sesuai Perpres No. 1 Tahun 2025.
Dalam jangka pendek, kebijakan seperti satu hari kerja dari rumah (WFH) per minggu diharapkan dapat mengurangi konsumsi BBM hingga 20 persen.
Untuk jangka menengah dan panjang, pemerintah mempercepat transisi energi menuju energi baru dan terbarukan, termasuk panas bumi, surya, dan angin, serta program campuran solar-biodiesel seperti B40 yang akan ditingkatkan ke B50.
Berita terkait: BPKN memperingatkan untuk tidak panik membeli BBM jelang Lebaran
Berita terkait: Indonesia pertimbangkan WFH untuk tekan penggunaan BBM di tengah risiko minyak
Penerjemah: Kelik, Kenzu
Editor: Primayanti
Hak Cipta © ANTARA 2026