Harga Minyak Berpotensi Capai Rp2,5 Juta per Barel, Ancaman Resesi Mengintai Dunia!

Kamis, 26 Maret 2026 – 00:05 WIB

Jakarta, VIVA – CEO BlackRock, Larry Fink, memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak global bisa memicu resesi jika mencapai level tinggi dan bertahan lama. Dia bilang harga minyak bisa naik sampai US$150 per barel atau sekitar Rp2.535.000 (kurs Rp16.900).

Menurutnya, level seperti itu akan berdamak besar pada perekonomian global. "Kita akan mengalami resesi global," kata Fink, seperti dikutip dari Discovery Alert, Kamis, 26 Maret 2026.

Dia menambahkan, risiko ini bisa berlangsung jangka panjang jika ketegangan geopolitik tidak mereda. "Bisa terjadi bertahun-tahun harga di atas US$100, mendekati US$150, yang punya implikasi besar buat ekonomi," ujarnya.

Secara historis, lonjakan harga minyak yang lebih dari 100 persen dari rata-rata lima tahun sering diikuti resesi dalam 12 sampai 18 bulan. Kejadian serupa pernah terjadi saat krisis minyak 1973 dan 1979, juga sebelum krisis finansial 2008 waktu harga minyak sentuh US$147 per barel.

Kenaikan harga minyak berdampak luas ke banyak sektor. Biaya transportasi naik sekitar 2–3 persen untuk tiap kenaikan US$10 harga minyak, sementara industri manufaktur seperti kimia, plastik, dan baja menghadapi kenaikan biaya produksi. Daya beli masyarakat juga tertekan karena pengeluaran untuk energi meningkat.

Sektor penerbangan termasuk yang paling terdampak, dengan biaya bahan bakar mencapai 25–35 persen dari total operasional. Sektor logistik dan industri berat juga dapat tekanan akibat kenaikan harga energi.

Lonjakan harga minyak ini juga dipicu gangguan distribusi di jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan di jalur ini bikin biaya pengiriman naik dan pasokan global jadi ketat.

Analisis BlackRock menunjukkan, jika harga minyak bertahan di atas US$140 selama lebih dari enam bulan, kemungkinan resesi global bisa meningkat signifikan.

MEMBACA  Asisten Belanja AI Rufus dari Amazon Kini Memungkinkan Beberapa Pembeli Melihat Riwayat Harga

Dampak terbesar diperkirakan akan dirasakan negara berkembang yang bergantung pada impor energi. Negara dengan ketergantungan tinggi berisiko alami pelemahan mata uang dan tekanan pada neraca perdagangan.

Iran Ungkap Syarat Mutlak Mau Negosiasi dengan AS

Hal itu ditegaskan oleh juru bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya militer Iran, Ebrahim Zolfaghari. AS ditegaskan harus memenuhi kehendak yang telah disampaikan Iran.

VIVA.co.id
25 Maret 2026

Tinggalkan komentar