Fed Pertahankan Suku Bunga di 3,5%, Arah Ekonomi AS Suram Imbas Perang Iran

Jumat, 20 Maret 2026 – 10:02 WIB

Jakarta, VIVA – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), kembali menahan suku bunga acuan di tengah meningkatnya ketidakpastian global karena memanasnya perang Iran. Lonjakan harga minyak dunia sejak konflik pecah di Timur Tengah mendorong risiko inflasi, membuat The Fed memilih bersikap lebih hati-hati.

The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75% yang berlaku sejak Desember 2025. Keputusan ini sesuai dengan ekspektasi pasar, meski mendapat tekanan dari Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan biaya pinjaman.

Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan arah kebijakan ke depan akan sangat tergantung pada perkembangan inflasi. Ia mengatakan dampak perang Iran terhadap inflasi AS masih sulit diprediksi.

“Kami tidak tahu apa dampaknya nanti dan sebenarnya tidak ada yang benar-benar tahu,” ujar Powell seperti dikutip dari BBC.

Powell menjelaskan, pasar mengalami oil shock yaitu lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Ini berpotensi menyebabkan inflasi lebih tinggi dalam jangka pendek, di mana harga minyak dunia naik ke level tertinggi sejak 2024.

Kenaikan harga energi menyebabkan perubahan proyeksi inflasi AS. Data terbaru menunjukkan inflasi AS diperkirakan mencapai 2,7% pada akhir 2026, naik dari proyeksi sebelumnya 2,4%.

Di sisi lain, kondisi ekonomi AS menunjukkan sinyal yang beragam. The Fed biasanya menurunkan suku bunga saat pengangguran naik untuk dorong pertumbuhan ekonomi. Namun kali ini, bank sentral menghadapi dilema antara inflasi yang naik lagi dan pasar tenaga kerja yang relatif stabil.

Para pejabat The Fed memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini mencapai 2,4%, sedikit lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. Sementara tingkat pengangguran diprediksi tetap di level 4,4%.

MEMBACA  Saham kecil kehilangan lonjakan Trump saat tingkat suku bunga yang meningkat melemahkan kekuatan

Powell juga menyoroti kebijakan imigrasi pemerintahan Trump yang dinilai turut mempengaruhi pasar tenaga kerja. Menurutnya, pembatasan imigrasi memperlambat pertumbuhan populasi dan mengurangi jumlah angkatan kerja. Hal ini membuat perusahaan tidak perlu mempekerjakan banyak orang untuk menjaga angka pengangguran tetap rendah.

“Ini seimbang, tetapi terasa ada risiko penurunan. Bukan keseimbangan yang benar-benar nyaman,” kata Powell.

Meski sebagian besar anggota dewan masih memperkirakan akan ada pemotongan suku bunga setidaknya sekali tahun ini, pasar kini mulai menggeser ekspektasi penurunan ke tahun depan. Ketidakpastian akibat perang dan kebijakan tarif sebelumnya membuat ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter semakin terbatas.

Tinggalkan komentar