Google Perluas Kesepakatan Listrik untuk Tekan Konsumsi Puncak di Pusat Data

Oleh Laila Kearney

NEW YORK, 19 Maret (Reuters) – Google sudah teken perjanjian dengan lima perusahaan listrik di AS, dari Arkansas sampai Minnesota. Tujuannya untuk mengurangi pemakaian listrik mereka saat beban listrik puncak, kata perusahaan hari Kamis. Ini adalah upaya terbaru Google untuk dapatkan listrik buat pusat data yang tumbuh cepat, sementara pasokan listrik baru lambat bertambah.

Akses cepat ke listrik dalam jumlah besar jadi salah satu halangan terbesar bagi perusahaan teknologi besar dalam memperluas teknologi *kecerdasan buatan* (artificial intelligence). Teknologi ini dikembangkan di gudang server yang butuh energi banyak, dikenal sebagai pusat data.

Karena persediaan listrik mulai kurang di beberapa daerah, dan pembangunan infrastruktur baru sering butuh waktu tahunan, perusahaan teknologi akhir-akhir ini ambil langkah tidak biasa. Misalnya, bangun pembangkit listrik baru atau hidupkan lagi reaktor nuklir yang sebelumnya ditutup.

Dalam perjanjian “respons permintaan” ini, Google akan kurangi konsumsi listrik di beberapa pusat data saat beban di jaringan listrik luar biasa tinggi.

“Ini alat yang sangat penting untuk memenuhi permintaan di masa depan,” kata Michael Terrell, kepala energi lanjutan Google.

Permintaan listrik biasanya melonjak saat hari sangat panas atau dingin, ketika rumah dan bisnis menambah pendingin atau pemanas. Ini meningkatkan risiko pemadaman bergilir. Perusahaan listrik dan operator jaringan punya cadangan tambahan dan lama punya kontrak dengan pengguna energi besar — termasuk pabrik dan penambang mata uang kripto — untuk kurangi pemakaian saat periode puncak.

Google sekarang sudah teken kontrak dengan Entergy Arkansas, Minnesota Power, dan DTE Energy. Ini menambah perjanjian awal yang diumumkan tahun lalu dengan Indiana Michigan Power dan Tennessee Valley Authority.

MEMBACA  Apa itu dan bagaimana cara kerjanya

Dalam kontrak ini, Google menyediakan sampai 1 gigawatt permintaan listrik pusat datanya untuk dikurangi selama periode puncak, saat risiko pemadaman paling tinggi.

Satu gigawatt bisa nyalain listrik untuk sekitar 750.000 rumah.

(Laporan oleh Laila Kearney di New York; Disunting oleh Mark Porter)

Tinggalkan komentar