Indonesia Pertimbangkan Kerja dari Rumah untuk Tekan Konsumsi BBM di Tengah Risiko Minyak

Jakarta (ANTARA) – Pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan skema kerja dari rumah (WFH) untuk menekan konsumsi BBM dan mengurangi risiko dari potensi disrupsi pasokan minyak global terkait ketegangan yang meningkat di Timur Tengah, ujar Menteri Energi pada Selasa.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah sedang mengkaji beberapa opsi kebijakan, termasuk pengaturan kerja jarak jauh, sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk mengurangi permintaan bahan bakar.

"Kami mempertimbangkan beberapa langkah, termasuk WFH, yang saya lihat sebagai opsi yang feasibel. Yang terpenting, kita harus bertindak untuk penghematan BBM," katanya di Jakarta.

Meski kekhawatiran atas kemungkinan krisis energi meningkat, Lahadalia memastikan pasokan domestik untuk bensin, elpiji, dan batu bara untuk pembangkit listrik tetap mencukupi hingga periode Idul Fitri 2026.

"Pengiriman elpiji tambahan akan tiba akhir bulan ini untuk memenuhi kebutuhan jelang Lebaran. Kami juga telah mengamankan pasokan batubara untuk menjalankan pembangkit listrik selama 14 hingga 15 hari, sesuai ketentuan minimum nasional," ujarnya.

Menteri menambahkan, pemerintah berencana mempertahankan subsidi BBM setidaknya hingga akhir musim liburan, dengan evaluasi lebih luas terhadap cadangan energi dijadwalkan setelah Maret.

"Percayalah, kami menyiapkan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang. Kami juga telah merencanakan perkembangan setelah Maret," katanya.

Berita terkait: Pemerintah RI sebut harga BBM stabil meski konflik Timur Tengah berlanjut

Lahadalia menyampaikan optimisme hati-hati tentang stabilitas energi global, dengan menyinyalir bahwa Iran mungkin mengizinkan jalur aman untuk kapal tanker minyak dari negara selain Israel dan Amerika Serikat melalui Selat Hormuz.

Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden Prabowo Subianto menyerukan langkah antisipatif untuk menjaga keamanan energi nasional.

Dalam rapat paripurna kabinet pada 13 Maret, Prabowo mendorong para menteri untuk mempertimbangkan kebijakan WFH, mengingat pembatasan mobilitas selama pandemi COVID-19 membantu Indonesia mengurangi konsumsi BBM secara signifikan.

MEMBACA  Sejarah Pensyariatan Salat Gerhana, Penting untuk Diketahui Umat Islam

Pemerintah kini menimbang apakah langkah serupa dapat diadaptasi dengan kondisi saat ini untuk meringankan tekanan pada permintaan energi.

Para pejabat menyatakan keputusan apapun akan menyeimbangkan aktivitas ekonomi dengan kebutuhan menjaga pasokan energi yang memadai dan melindungi konsumen dari potensi gejolak harga.

Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, tetap rentan terhadap guncangan energi eksternal karena ketergantungannya pada pasar minyak global, meski upaya memperkuat ketahanan domestik terus dilakukan.

Berita terkait: Indonesia bergerak kurangi penggunaan BBM di tengah krisis energi Timur Tengah yang meningkat

Penerjemah: Shofi Ayudiana, Tegar Nurfitra
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar