loading…
TEHERAN – Kapal tanker minyak berhenti diluar Teluk Arab, pedagang menaikkan penawaran untuk pasokan minyak mentah alternatif, dan kontraktor pertahanan menyiapkan kontrak baru — perang jarang membuat pasar tetap stabil.
Ketegangan yang meningkat antara Iran dan Amerika Serikat bulan ini telah memicu perubahan besar di pasar energi, pertahanan, dan keuangan. Kekayaan berpindah ke negara dan perusahaan yang siap memasok barang-barang yang menjadi langka karena krisis.
Gangguan ini berpusat di Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Arab ke pasar global. Sekitar seperlima dari pasokan minyak dunia biasanya mengalir disini. Ketika pengiriman melalui titik rawan ini jadi tidak pasti, efeknya menyebar jauh melampaui medan perang.
Eksportir energi diluar Teluk, pusat penyulingan canggih, kontraktor pertahanan, dan investor tertentu termasuk kelompok yang mendapat keuntungan finansial paling jelas. Berikut lima kelompok penerima manfaat terbesar dari krisis atau perang global:
Siapa yang Paling Untung Besar dalam Perang Iran? Nomor 5 Paling Berbahaya
1. Eksportir Minyak
Menurut Gulf News, produsen minyak dengan rute ekspor diluar zona konflik sering yang pertama diuntungkan dari guncangan pasokan.
Saat pengiriman dari Timur Tengah terganggu, kilang minyak mencari minyak mentah yang bisa sampai ke pasar tanpa melalui Selat Hormuz. Hal ini meningkatkan nilai minyak dari wilayah seperti Amerika Utara, Laut Utara, dan Rusia.
Negara-negara yang paling diuntungkan termasuk:
Rusia, dimana ekspor minyak mentahnya ke kilang-kilang di Asia jadi lebih berharga karena pasokan dari Teluk menipis.
Amerika Serikat, produsen minyak dan gas terbesar didunia.
Kanada dan Norwegia, yang mengekspor dalam volume besar ke pasar Cekungan Atlantik.
Analis mengatakan minyak Rusia mengalami salah satu perubahan harga paling dramatis. Sebelum eskalasi, minyak mentah Urals Rusia diperdagangkan dengan diskon sekitar $13 per barel dibanding minyak Brent.
Awal Maret, analis J.P. Morgan mengatakan hubungan itu sudah berbalik. Minyak Rusia sekarang diperdagangkan dengan premium $4-$5 dibanding Brent — perubahan tidak biasa yang mencerminkan kelangkaan pasokan yang mendadak.
Riset dari Goldman Sachs menunjukkan ketegangan geopolitik menambah sekitar $14 per barel pada harga minyak, karena pedagang memperhitungkan risiko gangguan berkepanjangan di pengiriman Teluk.
2. Kilang-kilang Memanfaatkan Kekurangan Bahan Bakar
Melansir Gulf News, produsen minyak diuntungkan saat harga minyak mentah naik. Kilang minyak sering dapat untung lebih besar ketika kekurangan bahan bakar olahan mendorong harga produk jadi lebih tinggi.