Jakarta (ANTARA) – Menteri Perkembangan Penduduk dan Keluarga Wihaji mendorong agar keluarga-keluarga menjadikan pengelolaan limbah sebagai kebiasaan sehari-hari untuk mendukung gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Rapi, dan Indah).
“Dengan membiasakan memilah, mengurangi, dan mengelola sampah di rumah, keluarga diharapkan menjadi garda terdepan dalam menurunkan volume sampah,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah 2026 di Jakarta, Rabu.
Dia menilai, sebagai unit terkecil masayarakat, keluarga memiliki peran strategis dalam mengelola sampah dari sumbernya.
“Unit terkecil bangsa adalah keluarga. Maka, apapun persoalan bangsa, solusinya berawal dari keluarga, termasuk persoalan sampah,” tegas sang menteri.
Dia menambahkan, kolaborasi antara keluarga, kementerian, dan pemangku kepentingan terkait dapat membantu menyelesaikan sebagian besar masalah sampah, khususnya sampah rumah tangga.
Wihaji menegaskan kementeriannya memiliki tenaga yang siap diterjunkan untuk mengubah perilaku masyarakat, termasuk perilaku keluarga dalam hal pengelolaan sampah.
Kementerian Perkembangan Penduduk dan Keluarga saat ini memiliki 17.541 penyuluh KB, 597.909 fasilitator keluarga, dan 77.281 Desa KB yang tersebar di Indonesia untuk menggerakkan penyuluhan dan fasilitasi di lapangan.
Upaya fasilitasi keluarga ini diharapkan dapat meningkatkan pemilahan sampah rumah tangga sekitar 30 persen, mendorong berdirinya bank sampah aktif di Desa KB, serta menciptakan lingkungan permukiman yang lebih bersih dan tertata.
Penguatan pengelolaan sampah di sumber menjadi langkah strategis untuk mengurangi beban ke pemrosesan hilir.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup mencatat timbulan sampah mencapai 24,8 juta ton pada 2025, dengan 65,45 persennya masih belum terkelola. Sementara itu, kapasitas teknis tempat pembuangan akhir di seluruh Indonesia diproyeksikan mencapai batas maksimal pada 2028.
Dengan total penduduk sekitar 286 juta jiwa dan lebih dari 74 juta keluarga di Indonesia, potensi mendorong perubahan perilaku yang dimulai dari tingkat rumah tangga sangat besar.
Intervensi di tingkat keluarga diperkirakan akan memberikan dampak signifikan, termasuk pengurangan 20–30 persen sampah yang dikirim ke TPA, penurunan risiko penyakit berbasis lingkungan, serta peningkatan ketahanan dan kualitas hidup keluarga.
Untuk menangani masalah sampah di tanah air, pemerintah Indonesia telah meluncurkan gerakan Indonesia ASRI, yang mempromosikan pendekatan pengelolaan sampah terpadu dan upaya pembersihan lingkungan.
Berita terkait: Indonesia dorong sinergi antardaerah untuk tangani krisis sampah yang meningkat
Berita terkait: Kementerian akan ambil tindakan hukum terhadap daerah yang gagal kelola sampah
Penerjemah: Lintang Budiyanti, Raka Adji
Editor: Primayanti
Hak Cipta © ANTARA 2026