Bagian dalam keyboard ini memang unik. Alih-alih memakai perangkat Hall effect standar, Q16 merupakan salah satu keyboard pertama dari Keychron yang memanfaatkan sensor TMR. Sensor ini sangat mirip dengan saklar Hall effect biasa, namun memiliki beberapa perbedaan kunci. Keunggulan terbesarnya adalah akurasi yang lebih baik dan konsumsi daya yang lebih rendah dibandingkan sensor Hall effect, sementara kekurangannya terutama pada harga yang lebih mahal dan kurangnya pengembangan.
Untuk gaming, saklar ini sangat bagus. Responsif dan cepat, kembali dengan sigap setelah ditekan serta menawarkan beberapa cara untuk menyesuaikan performanya. Pengaturan Rapid Trigger memungkinkan saklar untuk langsung ditekan kembali setelah dilepas (berbeda dari menunggu saklar reset melewati titik aktuasinya semula), dan pengaturan SOCD (simultaneous opposing cardinal direction) memungkinkan input gerakan berlawanan (biasanya A dan D untuk strafing) saling menimpa saat ditekan bersamaan. Artinya, jika A ditekan lalu D ditekan, tombol D akan diutamakan dan menonaktifkan input dari tombol A. Input terasa hampir instan dengan polling rate 8.000 Hz, dan jarak aktual saklar dapat dengan mudah disesuaikan melalui perangkat lunak Keychron Launcher. Selain perbedaan kecil dalam performa dan akurasi, saklar ini berfungsi identik dengan saklar Hall effect standar, dengan tetap mempertahankan semua fitur yang menjadi ciri khas saklar HE.
Untuk menjelaskan sepenuhnya apa itu sensor tunneling magnetoresistance, saya perlu latar belakang fisika kuantum, yang sayangnya tidak saya miliki. Namun, saya bisa coba menjabarkannya secara sederhana. Tunneling magnetoresistance berkaitan erat dengan quantum tunneling, sebuah fenomena di mana partikel subatomik menembus penghalang yang seharusnya tidak bisa ditembus. Hal ini terjadi karena partikel subatomik bersifat sebagai partikel dan gelombang secara bersamaan. Dalam sensor TMR, dua feromagnet pada dasarnya meneruskan partikel-gelombang subatomik ini—dalam hal ini, elektron—melalui sebuah penghalang yang sangat tipis. Ini menyebabkan tingkat magnetisme pada kedua magnet berubah saat mereka saling mendekat. Sebuah sensor mendeteksi perubahan magnetisme ini dan menggunakannya untuk menentukan seberapa jauh saklar telah ditekan. Kurang lebih seperti dua magnet sedang bermain tenis, elektron adalah bolanya, dan sensor TMR adalah wasit yang mengawasi pertandingan.
Jika ini terdengar sangat mengada-ada bagi Anda, atau jika partikel subatomik kuantum terdengar terlalu canggih untuk ada dalam keyboard konsumer, Anda tidak sendirian. Saya sendiri merasa seluruh konsep ini sangat aneh, dan menggunakan keyboard ini membuat saya merasa agak tidak nyaman karena alasan yang tidak bisa saya jelaskan atau justifikasi dengan baik. Tapi saya pastikan, tidak ada bahaya sama sekali dalam menggunakan keyboard ini—Anda tidak akan secara tidak sengaja membelah atom atau keracunan radiasi, sekilas pun tuts keramik warna hijau muda itu terlihat radioaktif. Dan jika saya kesampingkan keengganan ala Luddite saya terhadap “mengetik kuantum”, saklar pada keyboard ini adalah keajaiban teknik modern yang, dari perspektif objektif, cukup saya sukai.
Tasteful atau Cuma Ikut Tren?
Foto: Henri Robbins
Keychron sebelumnya pernah membuat keyboard yang mengikuti tren. Lihatlah K2 HE Special Edition, keyboard yang sangat cocok dengan menara PC Fractal North. Itu keyboard yang hebat. Gaya mid-century modern-nya mengangkat kualitas keyboard dan menjadikannya sesuatu yang sangat istimewa. Ia memiliki tujuan, arah, dan alasan untuk eksis.