Selain itu, terdapat pula efek fisiologis dari panas itu sendiri terhadap pernapasan kita. “Panas juga dapat menggangu kestabilan kontrol pernapasan, meningkatkan retensi cairan, dan memicu dehidrasi. Semua faktor ini dapat membuat saluran udara atas lebih mudah kolaps dan meningkatkan kemungkinan sleep apnea,” ujar Lucia Pinilla, peneliti lain di Flinders University yang menyelidiki subjek ini.
Di saat yang sama, sleep apnea sudah diprediksi menjadi masalah yang semakin berkembang bagi penghuni kota, akibat dampak kronis polusi udara terhadap pernapasan malam hari—suatu hal yang hanya diprakirakan akan memburuk. Tahun lalu, peneliti Hong Kong memimpin sebuah studi yang menemukan bahwa paparan jangka pendek maupun panjang terhadap partikel PM2.5—partikel udara berukuran sangat kecil, kurang dari 2,5 mikrometer, yang dihasilkan oleh sumber seperti knalpot kendaraan, emisi pabrik, dan kebakaran hutan serta dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan aliran darah—membuat sleep apnea lebih mungkin terjadi.
Studi lain menunjukkan hal yang sama berlaku untuk nitrogen dioksida, gas berwarna coklat kemerahan yang dilepaskan ke udara dari knalpot, pembangkit listrik, dan fasilitas industri lainnya. Sementara itu, paparan polusi juga memperburuk gejala bagi penderita sleep apnea yang sudah ada.
“Sleep apnea obstruktif terjadi ketika saluran udara atas menjadi tidak stabil dan kolaps selama tidur,” jelas Martino Pengo, profesor asociat dari University of Milano-Bicocca yang mempelajari subjek ini. “Polutan udara dapat meningkatkan ketidakstabilan ini dengan mengiritasi jaringan tenggorokan, menyempitkan saluran udara, dan membuatnya lebih rentan kolaps ketika tonus otot secara alami menurun di malam hari. Nitrogen dioksida adalah pengiritasi saluran napas yang kuat dan dapat memicu peradangan lokal yang dapat memecah tidur dan menggangu kestabilan pernapasan.”
Meskipun mengkhawatirkan, riset semacam ini juga mengarah pada cara-cara potensial untuk mengurangi risiko. Martha Billings, profesor kedokteran di divisi pulmonari, perawatan kritis, dan tidur Universitas Washington, menyarankan penggunaan alat penyaring udara dalam ruangan jika database kualitas udara daring menunjukkan kota Anda memiliki peringkat yang sangat buruk. “Saya akan merekomendasikannya terutama jika indeks kualitas udara lebih besar dari 200, seperti yang dapat terjadi saat kebakaran hutan atau kondisi udara stagnan lainnya,” katanya.
Demikian pula dengan meningkatnya suhu, menurunkan berat badan bisa menjadi salah satu cara mengurangi risiko sleep apnea Anda. Riset telah menyoroti bagaimana mereka yang kelebihan berat badan atau obesitas lebih berisiko mengalami episode sleep apnea yang lebih parah dalam cuaca panas, dengan pernapasan yang berhenti dan mulai lebih sering selama malam hari. Pinilla menyatakan hal ini berkaitan dengan cara akumulasi lemak tubuh mengubah regulasi suhu internal tubuh. “Orang dengan massa lemak lebih tinggi cenderung menahan lebih banyak panas dan melepaskannya dengan kurang efisien, sehingga lebih sulit mempertahankan suhu inti yang nyaman di malam hari,” ujarnya. “Pada malam yang panas, ini dapat menyebabkan tidur yang lebih ringan dan terfragmentasi.”
Pria, yang memang lebih rentan terhadap sleep apnea karena lebih cenderung menumpuk lemak di leher dan memiliki saluran udara atas yang lebih panjang serta mudah kolaps, berada dalam risiko khusus, demikian pula mereka dengan gangguan kesehatan mental atau tidur yang sudah ada sebelumnya.
Tim Flinders berharap pada akhirnya dapat mengembangkan saran yang dipersonalisasi dan sistem peringatan panas bagi mereka yang berisiko lebih tinggi mengalami peristiwa sleep apnea selama gelombang panas, serta solusi sederhana yang dapat digunakan siapa saja. Mereka berharap mendapat pendanaan untuk melakukan eksperimen di mana partisipan menerima *mattress topper* pendingin atau mengikuti saran perilaku spesifik, seperti memastikan hidrasi yang baik sebelum tidur, untuk melihat apakah ini dapat aktif mencegah peristiwa apnea dalam cuaca yang lebih hangat.
“Pada akhirnya, tujuan kami adalah mengembangkan rekomendasi praktis berbasis bukti yang dapat diterapkan selama gelombang panas, khususnya bagi kelompok rentan dan orang dengan risiko lebih tinggi,” kata Pinilla.