Dorongan untuk melakukanya lewat cara kimia merupakan respons atas kelemahan pendekatan lain yang sudah mereke coba. Daur ulang mekanis tradicsional melalui pencacahan dan penggilingan membuat serat-serat menjadi rusak. Kain yang dihasilkan kemudian harus dicampur dengan 70 hingga 80 persen bahan baku murni (virgin) supaya produk yang dibuat darinya tidak mudah berbulu atau sobek.
Strategi yang jauh lebih jamak ditemui saat ini adalah mengubah botol plastik bekas menjadi poliester baru. Patagonia lah yang memelopori pendekatan ini pada awal era 90-an. Pada awal dekade ini, semua poliester daur ulang hampir semua berasal dari botol lama. Kini, perusahaan-perusahaan makin kerap berhadapan dengan tuntutan hukum dan pengawasan regulasi dari para pihak yang lebih menginginkan botol-botol itu diproses kembali menjadi botol.
Daur ulang secara kimia diperkirakan menjadi solusi alternatif terbaik setelah itu. Terminologi ini merujuk pada penggunaan pelarut (solvent) untuk memisahkan serat menjadi unit dasar kimianya—sejenis pertikel bangunan dasar untuk dipintal kembali menjadi kain baru. Sekali pandang hal ini kocek sekali dengan prinsip “sirkular” karena ia tidak memerlukan sumbangsih air (correction: botol) serta para pendukungnya meyakini metode ini sanggup mengubah kaos poliester lima waktu kesayangan Anda menjadi yang baru lagi-benar-benar berulang.
Itulah visi yang saat ini tengah digaga oleh merek-merek besar pakaian seperti Gap, H&M, hingga Levi’s bekerja sama dgn beberapa perusahaan sejenis. Musim gugur lalu, Nike sepakat untuk menyuplai poliester “sirkular” daripad jauh.
Riset emang membuktikan adanya klaim yang berlebihan juga pengharkatan 60% mati. Policy…