Seorang pria berusia 74 tahun di California mengalami gigitan serangga yang ternyata bukan hanya gatal biasa. Gigitan itu menyebabkan cacing parasit hidup di kelopak matanya.
Dokter dari University of California Los Angeles dan timnya menjelaskan kejadian ini dalam laporan kasus baru. Hal yang lebih aneh, pria ini terinfeksi cacing jenis baru yang belum pernah ditemukan di Amerika Serikat sebelumnya. Untungnya, setelah cacing itu ditemukan, cacing tersebut dengan aman diangkat dan pria itu sembuh tanpa masalah.
"Temuan kami menegaskan pentingnya pemeriksaan molekuler dan histologis untuk mengidentifikasi infeksi cacing," tulis para penulis dalam laporan yang diterbitkan di jurnal Emerging Infectious Diseases pada bulan Juli.
Invasi dari dunia lama
Menurut laporan itu, pria tersebut digigit oleh serangga yang tidak dikenal di bagian bawah kelopak mata kirinya.
Awalnya, ia merasakan sedikit nyeri, bengkak, dan cairan keluar dari bekas gigitan. Namun, enam minggu kemudian, dokter kulitnya melihat sebuah benjolan sepanjang delapan milimeter yang keras namun tidak sakit di tempat yang sama. Pria itu lalu pergi ke dokter mata dan menjalani MRI, yang menunjukkan semacam kista di kelopak matanya. Dokter awalnya mengira kista itu adalah kalazion, yaitu benjolan yang meradang tapi tidak berbahaya di kelopak mata akibat kelenjar minyak yang tersumbat.
Kalazion biasanya hilang sendiri setelah beberapa minggu, tapi lima bulan kemudian benjolan itu masih ada. Dokter memutuskan untuk mengangkat dan memeriksanya. Operasi berjalan lancar, dan kista itu dikirim ke laboratorium untuk diteliti. Saat itulah dokter menemukan penyebab sebenarnya: seekor cacing gelang atau nematoda.
Secara fisik, parasit ini mirip dengan kelompok nematoda yang bernama Dirofilaria. Analisis genetik kemudian memastikan bahwa cacing itu adalah spesies Dirofilaria repens. Seperti kebanyakan parasit, cacing Dirofilaria mempunyai siklus hidup yang rumit, yaitu ditularkan melalui nyamuk dan inang alami seperti anjing atau rakun. Manusia adalah inang yang tidak sengaja dan tidak sempurna, sebab cacing ini tidak dapat tumbuh dewasa dan berkembang biak di dalam tubuh kita.
Di Amerika, biasanya orang terinfeksi oleh D. immitis (penyebab cacing jantung pada anjing) atau D. tenuis (asli rakun). Di Eropa, Asia, dan Afrika, atau sering disebut Dunia Lama, penyebab paling umum infeksi pada manusia dari cacing jenis ini adalah D. repens. Tapi laporan ini adalah yang pertama kali di Dunia Baru, menurut para peneliti.
Bagaimana bisa sampai di sini?
Beberapa penelitian baru baru ini menemukan cacing D. repens pada inang mamalia di Amerika Selatan, tepatnya di koatibeto, sejenis rakun. Namun, survei nasional pada anjing dan kucing di Amerika Serikat tahun 2022 tidak menemukan bukti genetik cacing ini. Hal ini membuat pertanyaan mengenai bagaimana dan kapan cacing itu sampai ke AS masih belum terjawab.
Karena pria itu tidak melakukan perjalanan ke luar negeri, peneliti menduga ia tertular cacing ini dari inang domestik di daerahnya. Mungkin juga populasi nyamuk Aedes yang makin banyak di California Selatan menjadi penyebabnya, karena nyamuk ini sering menjadi vektor Dirofilaria dan penyakit lainnya. Para peneliti menulis, "Peningkatan populasi nyamuk Aedes di California Selatan mungkin berperan, tetapi kurangnya survei D. repens pada inang liar di California membuat kesimpulan menjadi sulit."
Infeksi Dirofilaria pada manusia jarang terjadi secara umum, dan kasus D. repens di kelopak mata biasanya tidak menyebar dan mudah diangkat setelah ditemukan. Dalam kasus ini, pria tersebut sudah tidak gejala sama sekali enam bulan setelah operasi. Namun, munculnya parasit di daerah baru tetaplah hal yang mengkhawatirkan, sehingga perlu diadakan penelitian lanjutan, kata para ilmuwan.
"Penemuan nematoda D. repens di Amerika Serikat memerlukan pengawasan terus-menerus," tulis mereka.