Ran dan Dunia Kelabu: Nuansa Manga dari Era yang Lalu

Nasihat “jangan menilai buku dari sampulnya” seringkali diabaikan saat kita berkunjung ke toko buku, khususnya untuk manga. Bagaimanapun juga, ilustrasi yang indah adalah hal pertama yang bikin kita terkagum, lalu bersedia menekuk lutut untuk mengambilnya dari rak paling bawah (karena buku terbaik selalu ada di sana), dan membelinya setelah dihukum tatapan sang kasir karena memperlakukan toko layaknya perpustakaan. Begitulah pengalamanku saat mengambil *Ran and the Gray World*, sebuah manga yang terasa seperti kiriman dari zaman dulu, dalam artian yang baik, namun lebih banyak yang buruk.

Ran and the Gray World, karya Aki Irie, adalah manga seinen fantasi supernatural yang sampulnya langsung menarik perhatianku karena mengingatkanku pada gaya seni Rumiko Takahashi yang berpadu dengan Kamome Shirahama dalam Witch Hat Atelier. Singkatnya, gaya seninya penuh dengan pesona dan keunikan. Manga ini juga dengan bangga menampilkan karakter utamanya mengenakan sepatu Nike—sesuatu yang lucunya, menjadi cukup penting dalam cerita. Bahkan, aku hampir saja menggunakan hal itu sebagai pengantar untuk menjelaskan mengapa orang harus membacanya, sebelum ia berubah menjadi sumber kekecewaan (nanti kita bahas).

Ceritanya mengisahkan Ran Uruma, seorang anak sekolah dasar dan calon penerus keluarga penyihir kuat. Keinginan Ran sederhana: mencari teman dan tumbuh menjadi penyihir kuat seperti ibunya, Shizuka, yang memang powerful namun sangat tidak bertanggung jawab dalam menggunakan kekuatannya. Takdir berkata lain, Ran memiliki cara untuk mempercepat proses ‘tumbuh dewasa’ dengan mengenakan sepatu Nike tadi dan berubah menjadi wanita berusia 20 tahun. Petualangan magisnya juga mempertemukannya dengan seorang playboy kaya dan eksentrik, yang niatnya sebenarnya cukup jelas namun sengaja dibuat samar di blurb belakang manga, yang mempertanyakan apakah ia akan menjadi “kawan atau lawan.”

MEMBACA  CEO Schwab Klaim Perusahaan Unggul di Generasi Z dengan Menolak Model 'Judi' ala Robinhood dan FanDuel

© Aki Irie/Viz Media

Dengan semangat, aku lanjut membacanya. Bukan karena seninya yang indah bak berpendar dari halaman dan mengingatkan pada nuansa shojo lama, tetapi karena karakterisasi antara Shizuka dan keluarganya cukup menarik—menggunakan sihir untuk membanjiri mereka dengan kasih sayang sementara ia sendiri adalah ibu yang absen, entah karena pilihan atau karena panggilan yang lebih tinggi sebagai Satoru Gojo-nya dunia. Itu adalah drama keluarga yang berantakan namun menarik. Namun yang terutama, aku berharap dan berdoa bahwa alarm yang berdering di kepalaku tentang gadis kecil yang tiba-tiba menjadi dewasa ini akan berubah menjadi kisah *coming-of-age* tentang bahaya menjadi dewasa terlalu cepat, yang dibungkus rapi sebagai metafora dari sihir. Ternyata, manga cantik dari zaman dulu juga membawa serta semua ‘bau’ tidak sedap dari zaman tersebut.

Transformasi Ran menjadi tubuh dewasa kebanyakan dimainkan untuk komedi bernuansa *fanservice*, dengan pria-pria yang berubah menjadi serigala kartun saat melihatnya. Perlu diingat, ia tetap seorang anak SD, yang membuat seluruh adegan transformasi ini, paling baiknya, terasa tidak nyaman dan tidak memiliki tujuan naratif. Bahkan momen-momen yang seharusnya penting—seperti saat ia belajar menggunakan sihir dan ternyata lebih baik saat berwujud dewasa—tidak pernah terasa berkontribusi pada cerita karena kita sibuk bersiap-siap menyaksikan orang-orang yang melototinya.

Situasi ini makin parah karena transformasinya dirahasiakan, seolah-olah ia adalah Spider-Man, padahal keberadaan sihir bukanlah rahasia besar, mengingat ia dan ibunya pernah memanggil kue raksasa, kardus susu, dan anak ayam yang berserakan di kota saat mereka pertama kali bertemu dalam cerita.

© Aki Irie/Viz Media

Semua itu bertumpu pada narasi yang terasa tanpa arah, terus-menerus mengesampingkan potensi kisah pendewasaan yang mendalam di awal cerita dengan tergelincir ke dalam versi ilustrasi dari *trope* ‘born-sexy-yesterday’ tanpa ada pendalaman yang berarti. Tentu saja, *trope* itu sudah usang sejak awal dan memalukan untuk disaksikan dalam serial manga baru yang seharusnya lebih tahu. Jadi, ketika cerita tiba-tiba beralih ke krisis besar dan terburu-buru menuju garis akhir, “kecewa” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pengalaman membacaku, sehingga rekomendasi untuk manga yang awalnya menjanjikan ini pun berakhir dengan perasaan campur aduk.

MEMBACA  Wordle Hari Ini: Jawaban dan Petunjuk untuk 10 November 2025

Sekali lagi, aku tidak bisa cukup menekankan betapa sangat indahnya karya seni Irie dalam *Ran and the Gray World*. Aku hanya berharap bagian lain dari judulnya lebih membahas tentang cobaan dan tantangan menjadi dewasa terlalu cepat, dan bukan sekadar perwujudan warna dari kekecewaanku setelah membacanya. Kelihatannya ini pengingat bahwa kita memang tak bisa menilai buku dari sampulnya, apalagi jika itu adalah sebuah manga.

Ingin berita io9 lainnya? Cek jadwal rilis terbaru untuk Marvel, Star Wars, dan Star Trek, apa yang berikutnya untuk DC Universe di film dan TV, serta semua yang perlu kamu tahu tentang masa depan Doctor Who.

Tinggalkan komentar