Greg Brockman, salah satu pendiri dan Presiden OpenAI, menyumbang jutaan dolar untuk mendukung Presiden Donald Trump pada tahun 2025, meskipun faktanya Trump tidak dapat mencalonkan diri lagi sebagai presiden. Lantas, mengapa? Tampaknya, Brockman sangat ingin mendorong dukungan pemerintah bagi AI karena teknologi ini tengah mendapat sorotan negatif di media. Namun, jangan tanyakan pada Brockman tentang tindakan brutal ICE di kota-kota Amerika.
Wired menerbitkan wawancara dengan Brockman pada Kamis lalu yang menyebutkan bahwa Presiden OpenAI ini memandang dirinya sebagai seorang pendiri teknologi yang apolitis dan hanya ingin membantu umat manusia dengan penyebaran AI.
“Kita memulai perjalanan untuk mengembangkan teknologi yang akan menjadi hal paling berdampak yang pernah diciptakan manusia. Memastikan ini berjalan benar dan memberi manfaat bagi semua orang, itulah hal terpenting,” ujar Brockman kepada Wired.
Tahun lalu, Brockman dan istrinya menyumbang $25 juta kepada MAGA Inc, sebuah super PAC pro-Trump, dan $25 juta lagi kepada Leading the Future, sebuah super PAC yang diklaim nonpartisan untuk mempromosikan AI. Kontributor lain bagi Leading the Future termasuk miliarder pro-MAGA Marc Andreessen dan salah satu pendiri Palantir sayap kanan jauh, Joe Lonsdale.
Presiden OpenAI yang berusia 38 tahun itu mengatakan kepada Wired bahwa ia meningkatkan belanja politik karena opini publik mulai berbalik melawan AI, sebuah tren yang terlihat dalam jajak pendapat terbaru di Amerika. Menurut jajak pendapat Pew pada September 2025, 53% warga Amerika menyatakan AI akan memperburuk kemampuan berpikir kreatif, sementara 16% menyatakan sebaliknya. Hanya 10% yang merasa lebih antusias daripada khawatir tentang dampak AI bagi masyarakat, dan 57% menilai risiko sosial dari AI tergolong tinggi.
Akan tetapi, bagian paling menarik dari wawancara Brockman dengan Wired mungkin adalah bagian akhirnya. Tampaknya diskusi tersebut terjadi sebelum pembunuhan dua orang di Minnesota oleh agen federal. Renee Good tewas pada 7 Januari, dan Alex Pretti pada 24 Januari, ditembak mati oleh preman bermasker yang dikirim ke Minneapolis oleh Presiden Trump untuk meneror komunitas imigran.
Wired menghubungi Brockman untuk meminta tanggapannya mengenai pembunuhan tersebut, namun ia tampaknya menolak berkomentar secara langsung. Ia hanya berkata, “AI adalah teknologi yang mempersatukan, dan bisa menjadi jauh lebih besar daripada hal-hal yang memecah belah kita saat ini.” Tentu saja, itu adalah omong kosong hubungan masyarakat. Namun hal itu dapat diprediksi dalam lingkungan di mana Teknologi Besar terus merangkul rezim otoriter yang bertekad menghancurkan perbedaan pendapat.
Screenshots dari video yang diambil oleh Jonathan Ross, agen ICE yang membunuh Renee Good pada 7 Januari 2026. Gambar: Alpha News
Sepertinya setiap eksekutif teknologi ternama berusaha membantu Trump sebisa mreka, bahkan ketika popularitas presiden itu merosot. Orang-orang seperti Mark Zuckerberg, Jeff Bezos, dan Tim Cook berbaris untuk ‘mencium cincinnya’, sepanjang mereka bisa mendapatkan kontrak pemerintah atau memuluskan proses merger dan akuisisi.
Apa yang dilakukan Greg Brockman dengan memberi jutaan dolar kepada Trump dan kroni-kroninya sebenarnya bukan hal yang unik. Namun, penting untuk mengingat daftar pihak-pihak yang membantu kebangkitan fasisme di tahun 2026 ini. Karena akan ada masa setelah era Trump. Orang berusia 79 tahun itu berada dalam kondisi kesehatan yang buruk dan telah kehilangan sisa-sisa dukungan populer yang pernah dimilikinya. Hanya 36% warga Amerika yang menyetujui kinerja Trump, menurut jajak pendapat Associated Press pada Kamis lalu.
Tidak ada yang dapat memastikan kapan masa kepresidenan Trump akan berakhir. Namun, jangan sampai kita lupa apa yang dilakukan Brockman dan sejenisnya selama periode ini. Jika mereka yang mendanai pemerintahan teror Trump dibiarkan bangun di dunia pasca-Trump dan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa, maka kita telah gagal sebagai sebuah masyarakat.