TikTok mengalami gangguan di AS hanya beberapa hari setelah perubahan besar dalam kepemilikannya, membuat para pengguna cemas akan masa depan platform video pendek ini.
Di seluruh AS, pengguna ramai melaporkan berbagai masalah pada aplikasi tersebut di media sosial selama akhir pekan. Downdetector melaporkan menerima lebih dari 500.000 laporan pengguna dalam 24 jam terakhir, dengan masalah utama pada fungsi aplikasi, khususnya halaman “For You” yang tidak memperbarui. Laporan ini memuncak pada Minggu pagi.
Seorang juru bicara perusahaan patungan baru yang mengoperasikan bisnis TikTok di AS mengirimkan email ke Gizmodo yang berisi tautan postingan di X. Postingan itu menyalahkan masalah ini pada pemadaman listrik di salah satu pusat data di AS.
“Kami sedang bekerja sama dengan mitra pusat data untuk menstabilkan layanan. Kami mohon maaf atas gangguan ini dan berharap dapat segera menyelesaikannya,” bunyi postingan tersebut.
Gangguan ini terjadi hanya beberapa hari setelah TikTok mengumumkan pembentukan perusahaan patungan baru yang kini mengawasi operasi bisnisnya di AS, dipimpin oleh tiga investor utama yang masing-masing memegang saham 15%. Investor tersebut meliputi Oracle, raksasa teknologi yang didirikan Larry Ellison, serta Silver Lake dan MGX yang berbasis di Abu Dhabi.
Pengumuman yang dibuat pada Kamis lalu menyatakan bahwa perusahaan patungan ini dibentuk untuk mematuhi perintah eksekutif Presiden Donald Trump yang dikeluarkan pada bulan September, yang memungkinkan TikTok tetap beroperasi di AS di bawah kepemimpinan baru.
“Perusahaan Patungan yang mayoritas dimiliki pihak Amerika ini akan beroperasi dengan pengamanan yang ditetapkan untuk melindungi keamanan nasional melalui perlindungan data komprehensif, keamanan algoritme, moderasi konten, dan jaminan perangkat lunak bagi pengguna AS,” demikian pernyataan dalam siaran pers yang mengumumkan entitas baru tersebut.
Pengguna pun dengan cepat merasakan perbedaan.
Sebagian pengguna melaporkan kesulitan mengunggah video terkait protes ICE, sementara yang lain menyadari tiba-tiba menghilangnya konten politik di aplikasi.
“Algoritme TikTok yang baru SAMA SEKALI tidak menampilkan konten berita atau politik, bahkan tidak satu kata pun tentang peristiwa terkini, termasuk cuaca,” tulis seorang pengguna di X.
Dalam pengumumannya, perusahaan patungan tersebut menyatakan mandatnya adalah “mengamankan data pengguna AS, aplikasi, dan algoritme melalui langkah-langkah privasi data dan keamanan siber yang komprehensif,” serta menambahkan bahwa algoritme akan dilatih ulang menggunakan data pengguna AS dan diamankan di server Oracle.
Perlu juga dicatat bahwa Ellison adalah sekutu Presiden Trump dan orang terkaya keenam di dunia dengan kekayaan bersih $231 miliar, menurut Bloomberg. Putranya, David Ellison, baru-baru ini mengambil alih Paramount dan berencana untuk mengakuisisi Warner Bros. Discovery selanjutnya.
Politikus AS telah bertahun-tahun berupaya memaksa ByteDance, pendiri asal Tiongkok aplikasi ini, untuk melepas kendali atas TikTok. Trump pertama kali menandatangani perintah eksekutif pada 2020 yang menuntut ByteDance menjual operasi TikTok di AS.
Presiden Joe Biden akhirnya menandatangani undang-undang pada 2024 yang akan melarang TikTok di AS jika ByteDance gagal melepas kepemilikannya. Mahkamah Agung mengukuhkan hukum tersebut pada Januari lalu, memutuskan bahwa pemaksaan penjualan dibenarkan oleh kekhawatiran keamanan nasional terkait hubungan TikTok dengan Tiongkok.
Namun, sebagian anggota legislatif berpendapat bahwa dorongan untuk melarang TikTok lebih terkait dengan jenis konten politik yang beredar di platform tersebut, dan bukanya semata-mata soal keamanan nasional.
Mantan Senator Mitt Romney menghubungkan dukungan bipartisan yang luas untuk pelarangan tersebut dengan kekhawatiran para anggota dewan terhadap konten pro-Palestina di aplikasi itu selama sebuah forum pada Mei 2024.