Salah satu tantangan terbesar dalam perangkat pemantau kesehatan adalah daya tahan baterai. Meskipun sebuah produk mampu memberikan wawasan kesehatan dan tidur yang luar biasa, waktu pengisian daya yang tidak terelakkan akan selalu meninggalkan celah pada data pengguna. Celah ini bisa merusak tren data berujung pada diagnosis yang tidak akurat, atau gagal memprediksi situasi darurat. Seiring perkembangan teknologi kesehatan pintar yang bergeser dari model deteksi pasca-kejadian menuju model prediktif, kebutuhan akan data pemantauan yang lengkap menjadi semakin krusial.
Sebuah ide baru mungkin dapat memecahkan masalah celah data pada pelacak kesehatan: mengisi daya melalui panas tubuh. Peneliti dari Texas A&M University menemukan cara untuk menyalakan detektor demam elektronik berukuran kecil menggunakan panas tubuh, tanpa memerlukan sumber panas yang besar, baterai cadangan, atau rangka perangkat yang besar untuk menampung sensor tersebut.
Meskipun proyek dari Departemen Teknik Mesin Texas A&M University ini bertujuan meningkatkan kesehatan publik dengan memindai kerumunan orang secara cepat untuk mendeteksi demam, aplikasi potensial dari teknologi ini jauh melampaui sekadar detektor demam. Teknologi ini bahkan dapat berfungsi sebagai perangkat pemanen energi panorama. Lebih lanjut, teknologi baterai ini berpotensi menurunkan biaya dibandingkan sensor pemantau kesehatan yang sudah ada.
Konsepnya sebenarnya bukanlah hal baru—sudah ada jam tangan Matrix PowerWatch yang diisi daya oleh panas tubuh sejak tahun 2017—namun proyek baru ini menawarkan daya tahan baterai yang jauh lebih lama dengan ukuran yang lebih ringkas dibandingkan solusi pelacakan kesehatan tradisional. Layar dan layar sentuh pada jam tangan pintar standar membutuhkan daya yang sangat besar, yang berarti memerlukan panas tubuh yang sangat tinggi untuk dapat beroperasi. Akibatnya, PowerWatch harus membuat banyak kompromi signifikan dari segi kegunaan agar bisa diisi daya hanya dengan panas tubuh, sehingga menghasilkan layar redup dan tanpa fungsionalitas sentuh.
Proyek Texas A&M University memanfaatkan elektroda baja untuk menangkap energi termal yang dihasilkan pengguna. Mengingat tingkat korosi baja karbon yang umum, baterai semacam ini dapat bertahan hingga lebih dari satu dekade.
Tentu saja, satu dekade bukan berarti “tidak bisa mati.” Proyek ini juga masih terfokus pada pelacak kecil dengan satu fungsi spesifik, bukan pada perangkat penggunaan ganda atau perangkat konsumen seperti cincin pintar dan gelang kebugaran. Namun, langkah ini tetaplah maju ke arah yang benar dan merupakan indikasi ke mana teknologi wearable dapat berkembang di masa depan. Setidaknya, pelacak kesehatan yang nyaris abadi jelas lebih berguna daripada model-model kita saat ini yang memiliki masa pakai terbatas.