Pil KB mungkin membawa lebih banyak resiko dari yang selama ini diperkirakan. Sebuah studi yang terbit minggu ini mengindikasikan bahwa kontrasepsi oral yang paling umum dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya bentuk tertentu dari makan berlebihan secara emosional.
Para peneliti di University of Michigan dan institusi lainnya menganalisis data survei dari wanita yang mengonsumsi pil kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progesteron. Mereka menemukan bahwa wanita yang secara aktif menggunakan pil KB memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami emotional eating. Peneliti menekankan bahwa riset lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi wanita yang paling rentan terhadap risiko tambahan ini.
“Temuan kami secara konsisten menunjukkan peningkatan [emotional eating] selama periode hormon aktif dibandingkan dengan pil plasebo,” tulis mereka dalam makalah yang diterbitkan di JAMA Network Open pada Rabu lalu.
### Hormon dan Risiko Makan Berlebihan
Sejumlah studi sebelumnya mengindikasikan bahwa fluktuasi hormon alami yang diproduksi oleh ovarium wanita dapat memengaruhi risiko binge eating, terutama emotional eating (makan berlebihan sebagai respons terhadap stres emosional). Riset tim ini sebelumnya menemukan bahwa kadar estrogen dan progesteron yang tinggi—yang biasanya terjadi pada paruh kedua siklus menstruasi, setelah ovulasi—tampaknya meningkatkan risiko ini.
Banyak bentuk kontrasepsi hormonal untuk wanita bergantung pada versi sintetis dari hormon yang sama, sehingga memunculkan pertanyaan apakah pil KB juga dapat meningkatkan kecenderungan makan berlebihan. Para peneliti memutuskan untuk meneliti efek potensial dari pil kontrasepsi oral kombinasi terhadap binge eating, karena pil ini paling menyerupai kondisi berisiko tinggi yang telah mereka identifikasi sebelumnya. Menariknya, pil kombinasi juga merupakan jenis kontrasepsi hormonal yang paling umum digunakan wanita sepanjang hidup mereka.
Para peneliti menganalisis data dari Michigan State University Twin Registry, sebuah proyek jangka panjang yang melacak secara ketat saudara kembar dan keluarga mereka di negara bagian tersebut. Dalam survei ini, wanita diminta melaporkan penggunaan pil kontrasepsi kombinasi setiap hari, termasuk apakah mereka sedang mengonsumsi pil aktif atau plasebo tidak aktif (biasanya, wanita menggunakan pil aktif selama 21 hari, lalu plasebo selama 7 hari); mereka juga ditanya tentang kebiasaan makan mereka. Secara total, peneliti melacak 422 wanita selama dua siklus menstruasi.
Pada hari-hari ketika wanita mengonsumsi pil aktif, para peneliti menemukan bahwa mereka secara signifikan lebih mungkin melaporkan emotional eating dibandingkan dengan hari-hari ketika mengonsumsi pil inaktif. Pola ini terlihat pada seluruh sampel wanita maupun pada kelompok kecil wanita yang sebelumnya dilaporkan mengalami episode klinis binge eating.
“Temuan ini penting untuk menyoroti potensi dampak negatif dari kontrasepsi oral kombinasi pada wanita. Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa tidak semua wanita dalam studi ini mengalami binge eating—pil ini aman bagi banyak wanita, dan kemungkinan risikonya tertuju pada mereka yang memiliki faktor risiko lain,” kata penulis utama Kelly Klump, seorang ahli gangguan makan dan profesor di Departemen Psikologi MSU, dalam sebuah pernyataan dari universitas tersebut.
### Langkah Selanjutnya
Para peneliti mengatakan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi faktor risiko lain yang mungkin membuat wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal lebih rentan terhadap emotional eating.
Di sisi positif, peneliti menemukan bahwa wanita cenderung lebih jarang makan berlebihan seiring berjalannya studi. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh pelaporan harian yang dilakukan wanita sebagai bentuk “pemantauan diri”—sebuah teknik yang telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam mengurangi episode binge eating. Para peneliti berharap hal ini berarti akan ada cara-cara proaktif untuk membantu wanita yang mungkin berisiko lebih tinggi terkena binge eating, tetapi tetap ingin menggunakan kontrasepsi hormonal.
“Kami menemukan bahwa pemantauan diri adalah alat yang efektif dalam mengurangi risiko bagi wanita dalam studi ini,” kata Klump. “Semakin kami dapat membekali wanita dengan alat dan mendidik penyedia layanan kesehatan tentang risiko-risiko ini, semakin efektif perawatan yang dapat diberikan.”