Khawaatir bahwa penerapan AI yang semakin masif dan akselerasi kapitalisme tahap akhir akan terus mengasingkan manusia satu sama lain? Jangan khawatir, karena sekarang Anda bisa ngobrol dengan iklan! Menurut laporan dari Search Engine Land, dalam ajang Google Marketing Live tahun ini, perusahaan tersebut mengumumkan generasi baru iklan “konversasional” yang sebentar lagi akan memenuhi hasil pencarian.
Google akan meluncurkan sejumlah pengalaman iklan baru yang akan terintegrasi dengan mesin pencari versi terbaru yang berpusat pada AI. Termasuk di dalamnya adalah iklan “Penemuan Konversasional”—menurut Search Engine Land, ini adalah hasil bersponsor yang dirancang semirip mungkin dengan jawaban atas pertanyaan pengguna. Iklan ini akan muncul dalam Mode AI di dalam Google Search dan menghasilkan respons yang dipersonalisasi berkat model Gemini punya Google. Jadi, jika Anda selama ini diam-diam ingin ngobrol dengan sebuah iklan, selamat—keinginan aneh dan spesifik itu akan segera terwujud.
Selain iklan-iklan yang cukup “cerewet” tersebut, Google juga akan memperkenalkan “Jawaban yang Disorot,” yang akan menampilkan promosi yang sangat relevan dalam sebuah daftar rekomendasi, lagi-lagi didukung oleh Gemini. Fitur ini kabarnya akan hadir di pengalaman pencarian standar Google. Dari sisi konsumen, mungkin terasa seperti iklan-iklan biasa yang bertambah banyak. Namun dari sisi pebisnis, Search Engine Land menyebut bahwa hal ini akan membuat iklan menjadi lebih dinamis dan tertarget— bukan lagi statis dan terpaku pada kata kunci tertentu serta naskah iklan yang sudah jadi.
Di tengah Google yang seolah sengaja merusak produk andalannya demi menyuntikkan sebanyak mungkin “sampah AI” ke dalamnya, menurut laporan Wall Street Journal, Gemini sendiri untuk saat ini tetap bebas iklan. Tapi Anda harus sangat naif untuk percaya keadaan itu akan bertahan lama. Kita sudah melihat perusahaan lain mencoba menyisipkan iklan ke dalam antarmuka chatbot mereka. OpenAI sudah melakukannya—meskipun hasil eksperimen mereka bisa dibilang campuran, atau lebih akuratnya, malah dianggap sebagai kegagalan nian—sebut saja gagal total tidak berlebihan. Ternyata, korporasi sangat antusias membayar mahal untuk penempatan iklan yang tidak benar-benar menarik perhatian. Tentu saja, Google sudah berkutat di dunia periklanan jauh lebih lama dan menguasai banyak “seni gelap” yang tidak bisa diandalkan oleh pendatang seperti OpenAI. Misalnya saja monopoli periklanan digital.
Menurut Search Engine Land, Iklan Penemuan Konversasional dan Jawaban Disorot saat ini sudah tengah diuji coba pada pengguna di Amerika Serikat, dan akan muncul di perangkat \tuntuk penggunaan komputer genggam maupun laptop. Lebih banyak fitur berbasis AI untuk pengiklan diperkirakan akan meluncur dalam tahun ini. Jadi, bersiaplah untuk dunia maya yang semakin memberatkan.