Trump Membatalkan Konsesi Minyak Venezuela yang Diberikan oleh Pendahulunya Joe Biden | Berita Donald Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah membatalkan konsesi produksi minyak yang diberikan kepada Venezuela oleh pendahulunya, Demokrat Joe Biden.

Dalam sebuah postingan media sosial pada hari Rabu, Trump mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro tidak melakukan perbaikan di bidang-bidang seperti reformasi pemilu dan penegakan imigrasi.

“Kami dengan ini membatalkan konsesi yang diberikan oleh Joe Biden kepada Nicolas Maduro, dari Venezuela, pada perjanjian transaksi minyak, tertanggal 26 November 2022, dan juga berkaitan dengan kondisi Pemilu di Venezuela, yang belum dipenuhi oleh rezim Maduro,” tulis postingan tersebut.

Pada tahun 2022, pemerintahan Biden mengeluarkan lisensi kepada raksasa energi AS, Chevron, untuk memperluas produksi di Venezuela yang kaya akan minyak.

Pada saat itu, AS sedang mengambil langkah-langkah hati-hati untuk menurunkan ketegangan dengan pemerintahan Maduro, sebagian dengan harapan agar terjadi lebih banyak kerjasama dalam bidang energi.

Kemudian, pada Oktober 2023, pejabat di pemerintahan Maduro menandatangani dua kesepakatan yang disebut Kesepakatan Barbados, yang menegaskan komitmennya untuk pemilu yang bebas dan adil yang dilakukan di bawah pengawasan pakar pemilu internasional.

AS merespons komitmen tersebut dengan lebih memperlonggar sanksi minyak terhadap ekonomi Venezuela.

Tetapi menjelang pemilihan presiden Venezuela tahun 2024, pemerintahan Maduro meningkatkan tindakan represif yang menargetkan oposisi politik di negara tersebut.

Misalnya, pemerintah melarang lawan politik untuk mencalonkan diri, termasuk Maria Corina Machado dan Corina Yoris, seorang profesor yang mencoba menggantikan Machado dalam pemilihan.

Namun, kandidat oposisi Edmundo Gonzalez terlihat akan mengalahkan Maduro dalam pemungutan suara, menurut jajak pendapat sebelum pemilu. Tetapi segera setelah pemungutan suara pada 28 Juli, otoritas pemilihan negara tersebut mengumumkan bahwa Maduro telah menang, tanpa memberikan rincian suara yang biasanya diberikan.

MEMBACA  Pekerja di Irlandia Utara Mogok Besar-besaran karena Upah dan Kekacauan Politik

Pembatasan tradisi itu memicu tuduhan luas bahwa Maduro telah dengan salah mengklaim kemenangan. Namun, pada 10 Januari, Maduro dilantik untuk masa jabatan ketiga.

Trump sendiri dilantik untuk masa jabatan kedua di Gedung Putih beberapa hari kemudian, pada 20 Januari. Tetapi pengamat politik mempertanyakan apakah mandat baru Trump di kantor akan membawa pendekatan yang berbeda terhadap Venezuela.

Tinggalkan komentar