Serangan udara militer Mali dilakukan di tengah krisis keamanan setelah serangan bulan lalu oleh militan terkait al-Qaeda dan separatis Tuareg.
Diterbitkan pada 18 Mei 202618 Mei 2026
Serangan drone oleh angkatan darat Mali telah menewaskan sedikitnya sepuluh warga sipil saat mereka bersiap merayakan pernikahan di wilayah tengah San, yang merupakan eskalasi konflik terbaru sejak kelompok bersenjata meluncurkan serangan terkoordinasi besar-besaran pada akhir bulan lalu.
Serangan pada hari Minggu itu terjadi selama krisis keamanan pasca serangan terhadap posisi rezim militer bulan lalu oleh pejuang dari Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) yang berafliasi dengan al-Qaeda dan separatis Tuareg yang dikenal sebagai Front Pembebasan Azawad (FLA).
Rekomendasi Artikel
Seorang warga di kawasan Tene, tempat terjadinya serangan, memberi tahu kantor berita AFP bahwa “sepuluh anak kami” tewas. “Apa yang seharusnya menjadi momen sukacita di desa berubah menjadi duka yang mendalam,” ujarnya dengan syarat anonim.
“Tragedi terjadi saat penduduk desa sedang mempersiapkan edisi kedua pernikahan kolektif tradisional ini, sebuah acara budaya besar bagi komunitas itu,” kata seorang sumber keamanan yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada AFP.
Serangan tersebut menyasar dari “iring-iringan sepeda motor yang saling mengikuti,” tambahnya. “Hal itulah yang pasti menarik perhatian drone.”
Seorang pejabat regional juga mengkonfirmasi kepada AFP bahwa sekitar sepuluh orang tewas. “Sebuah pernikahan hendak dilangsungkan ketika drone menewaskan sedikitnya sepuluh warga sipil. Benar-benar masa berkabung,” tuturnya pada AFP.
Mali telah berada sejak April dalam situasi keamanan kritis setelah JNIM bekerja dengan pemberontak JLA. Serangan mematikan pada 25 dan 26 April menyasar kota-kota strategis dan menewaskan menteri pertahanan negara tersebut yang berpengaruh.
Nicolas Haque dari Al Jazeera, yang sering melaporkan dari Mali, mengatakan berdasarkan dari sumber militer Asia namun kurang lambaga?