Negara Himalaya itu mengembalikan patung bersejarah berusia berabad-abad, yang dicuri pada tahun 1980-an, ke kuil asalnya di ibu kota Kathmandu.
Dipublikasikan pada 2 Mei 2026, 2 Mei 2026
Patung Buddha berusia lebih dari satu abad yang dicuri dari sebuah kuil di Nepal kini telah dikembalikan ke lokasi aslinya. Ini adalah salah satu dari sekian banyak artefak yang dipulangkan dari museum dan kolektor asing dalam beberapa tahun terakhir.
Patung dari abad ke-13 ini diusung dengan tandu kembali ke kuil bergaya pagoda di ibu kota, Kathmandu, diiringi alunan musik tradisional pada Jumat lalu.
Rekomendasi Stori
[daftar 4 item yang tidak ditampilkan]
“Saya merasa sangat bahagia, kami semua merasa demikian. Dewa kami kembali,” ujar Sunkesari Shakya (67), salah seorang jemaah, kepada kantor berita AFP seraya mengenang hari patung itu dicuri dan menimbulkan “kekacauan” di komunitas mereka.
Dalam sebuah upacara yang dihadiri oleh utusan khusus Amerika Serikat, patung yang telah kembali dari New York pada 2022 itu diletakkan kembali di atas landasan batu aslinya. Acara ini bertepatan dengan perayaan Buddha Jayanti, yang memperingatkan kelahiran pendiri agama Buddha.
[Foto] Para pemedul dengan khusyuk membawa arca Buddha untuk ditempatkan kembali di sebuah kuil di Kathmandu [Prakash Mathema/AFP]
Replika yang selama ini disembah oleh warga setempat dipindahkan ke area lain di kompleks kuil.
Patung ini diambil dari kuil pada tahun 1980-an dan kemudian muncul di Tibet House US, sebuah pusat kebudayaan di New York, di mana patung tersebut dihadiahkan oleh seorang biksu tak dikenal, demikian menurut Departemen Arkeologi Nepal.
Sergio Gor, utusan khusus Washington untuk Asia Selatan dan Tengah, mengatakan kepada AFP, “Salah satu hal yang kami fokuskan adalah kemampuan untuk memulangkan beberapa artefak luar biasa ini yang selama beberapa dekade terakhir berada di tangan yang salah.”
“Kami berusaha untuk memperbaiki kesalahan masa lalu,” ujar Gor, yang sedang dalam kunjungan tiga hari ke Nepal.
[Foto] Para pemedul membawa arca Buddha untuk ditempatkan kembali di sebuah kuil di Kathmandu [Prakash Mathema/AFP]
Banyak penduduk di negara pegunungan yang terdiri dari 30 juta jiwa ini sangat taat beragama, dan kuil-kuil Hindu dan Buddha serta situs-situs warisan budaya merupakan bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka.
Namun, banyak situs yang kehilangan arca, lukisan, jendela ornamental, dan bahkan pintu berusia berabad-abad, yang seringkali dicuri setelah negeri ini terbuka bagi dunia luar pada tahun 1950-an.
Banyak benda diambil dengan bantuan pejabat koruspsi untuk memasok pasar seni di AS, Eropa, dan tempat lain, meskipun ekspornya tetap ilegal.
Sekitar 200 artefak telah dipulangkan ke Nepal, demikian menurut Departemen Arkeologi, termasuk ukiran kayu dan batu, lukisan, kitab suci, serta arca dewa-dewi. Setidaknya 41 artefak telah ditempatkan kembali di lokasi aslinya.
“Ini sangat penting. Patung kami bukan hanya objek seni, melainkan bagian dari warisan hidup,” kata pakar konservasi Rabindra Puri kepada AFP.
Puri mengatakan ada momentum yang berkembang untuk memulangkan artefak curian. Lebih dari 400 benda resmi tercatat hilang, tetapi para ahli memperkirakan jumlah sebenarnya mencapai ribuan.
Pemerintah secara khusus berupaya memulangkan lebih banyak arrefak dari AS, Prancis, Jerman, dan Inggris.