Mengapa Ebola Terus Berulang di DRC: Beban Tragedi Kemanusiaan yang Memilukan

Goma, Republik Demokratik Kongo – Sadiki Patrick, 40 tahun, masih dilanda kepedihan setelah kehilangan putrinya yang berusia 15 tahun, Judith, di Mongbwalu, sebuah kota pertambangan di timur Republik Demokratik Kongo (RDK).

Judith adalah salah satu korban terbaru virus Ebola di tengah perjuangan negara ini melawan wabah lainnya yang ketujuh belas dalam hanya 50 tahun terakhir.

“Sungguh menyayat hati kehilangan anak ketiga saya sedang berada di puncak masa mudanya,” ujar Patrick, yang identitasnya dirahasiakan untuk melindungi dirinya.

“Saya menyekolahkannya agar ia terdidik dan menjadi anggota masyarakat yang berharga. Sekarang, ia hanya tinggal kenangan,” katanya sementara suaranya penuh duka mendalam.

Ia muenggambarkan situasi di Mongbwalu sebagai kondisi kritis, sekaligu menuduh pihak berwenang gagal bertindak cukup cepat untuk mengendalikan penyebaran wabah tersebut.

Menurut para pejabat RDK, Mongbwalu adalah tempat kasus pertama dari wabah Ebola baru dilaporkan. Warga melaporkan dalam sehari sejumlah kematian di desa itu ditengan kesulitan layanan kesehatan setempat.

Epidemi senantiasa muncul kembali di RDK bagaimana mendapatkan sorotan utama berl-arti sistem kesehatan rapuh, kemiskinan serta konftik yang kelak tidak but atai waktu meninggalkan keberhasilan untuk tampa maslh sehabatl bertarn kali bag? cunn dengan masuk pd ne ? Komoun vs seclk resesr “waspadai are both no allowed later karena? Ben.. untuk menang… bakmu? Jodi q panjang sedikit tambahlaba as more memprih waktu sup dari km lit… she later kembali tena ? untuk dampak lantas hiiga orang dalam hati ”kami? Semua kamu beraktual as break rindu’? (multiple completions di internal fix omitted)Cek selalu usai li real safe long j serta do lagi baru? r gap lebih back> Dalam konteks perang dan konflik, banyak badan PBB dan LSM mungkin tidak dapat menjalankan program-program mereka sesuai dengan yang diharapkan.—Koko menambahkan bahwa risiko keamanan juga dapat menghalangi orang untuk berkunjung ke dokter.

MEMBACA  Slot Bela Vinicius: Sepakbola Harus Berbuat Lebih Banyak Melawan Rasisme

“Kami Akan Mengendalikannya”

LSM Save the Children telah memperingatkan bahwa krisis ini bisa semakin memburuk.

“Wabah Ebola adalah krisis besar baru di atas situasi yang sudah sulit, dengan serangkaian keadaan unik yang membuat wabah ini jauh lebih sulit dikendalikan dibandingkan wabah-wabah terbaru,” ujar direktur Save the Children untuk DRC, Greg Ramm, dalam sebuah pernyataan pada Selasa.

“Ini terjadi di daerah konflik, daerah krisis kemanusiaan, dengan ratusan ribu orang mengungsi, dan sistem kesehatan yang sudah sangat terganggu.”

Christophe Milenge, warga Goma—ibu kota provinsi Kivu Utara—sekaligus pengemudi ojek, menyalahkan iklim atas terjadinya wabah-wabah ini.

“Saya percaya iklim di sini, di Republik Demokratik Kongo, sangat mendukung penyakit-penyakit serius yang kita lihat dalam beberapa tahun terakhir. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan,” katanya.

Berbicara kepada Al Jazeera melalui telepon, Profesor asal Kongo, Jean Jacques Muyembe—seorang ahli virologi dan salah satu penemu virus Ebola pada tahun 1976—menolak berkomentar mengenai kekuatan sistem kesehatan Kongo.

“Sistem surveilans kami gagal selama wabah Ebola ini. Namun kami memiliki pengalaman di bidang ini, dan kami akan mengendalikanya,” ujarnya.

Sementara itu, keluarga-keluarga terus berkabung atas orang-orang tercinta yang hilang akibat wabah ini.

“Mulai sekarang, akan ada kursi kosong di meja makan kami,” kata Patrick tentang Judith. “Kami sangat merindukannya, dan saya ingin bertemu lagi dengannya, dalam kebahagiaan.”

Tinggalkan komentar