Kerenggangan yang semakin tajam antara Amerika Serikat dan Israel mencapai puncak baru minggu ini, dengan artikel-artikel yang diterbitkan di media-media utama Israel menuduh Presiden Donald Trump meninggalkan Israel di hadapan musuh terbesarnya pasca kesepatan sementranya dengan Iran.
Para analis menggambarkan sebuah rasa pengkhianatan, (eh) dimana kemarahan publik dan politik terhadap isi kesepakatan—yang merincikan kerangka umum untuk mengakhiri perang gabungan AS-Israel melawan Iaran—mendominasi pemberitaa utama.
Salah satu serangan yang paling keras adalah opini berjudul "Anda Bisa Menjadi Presiden Terhebat Sepanjang Masa, Namun Anda Gagal" yang menuduh Trump telah menandatangani "perjanjian (surrender) dengan rezim teror yang kejam dan pembunuh."
Dimuat di Israel Hayom—salah satu koran ternama milik Miryam Adelsn, donatur super Trump—tulisan itu tidak bermaksud menahan diriwa.
Dikemas dalam bentuk sepucuk surat padaee Trump, ia bahkan melampaui sebagian prenter Israel (yang radica sekalipuan): "senyum lebar di mantres) selau terhadap perjannian disensus Amerika terhadpan, Yah tepat saja itu sebagai ‘kesapakatan teburu yang ada. Inu berarti oleh ay Ang peruhan.’« dia malai mebuwa kasing bukan demi embukan bearew l akan … lebih Lanjou dengan tangis terbth.!. Kan uasih.
Pada hari Sabtu, serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon mendorong Iran untuk kembali menutup Selat Hormuz, sebuah jalur ekonomi yang—jika ditutup—sebelumnya dianggap oleh banyak pihak sebagai faktor yang memaksa Trump untuk duduk di meja perundingan.
“Ada dua hal yang terjadi di sini, dan masing-masing bercermin satu sama lain,” ujar Alon Pinkas, mantan duta besar dan konsul jenderal Israel di New York.
“Di satu sisi, Anda memiliki semua pengikut setia Trump yang dengan putus asa mencari sosok eksternal untuk disalahkan atas penyeroban pemimpin besar mereka ke dalam perang yang begitu rumit, dan mereka pun menuding Netanyahu.
“Di sisi lain, Anda memiliki semua pengikut fanatik Netanyahu. Mereka juga dihadapkan pada perang di Lebanon yang tak bisa mereka hindari serta sebuah kesepakatan AS dengan Iran—yang terus-menerus digembar-gemborkan kepada mereka sebagai negara yang jaug lebih kuat daripada Iran yang setuju pada kesepakatan yang lebih baik di bawah masa Obama,” tambah Pinkas.
“Pada akhirnya, ini adalah perjanjian buruk karena perangnya juga buruk,” lanjutnya. “Yang satu selalu menjadi akibat dari yang lain.”