Dicintai dan Dibenci: Kisah Dokter Spesialis Hati yang Viral di India

Ruang tunggu di luar klinik hepatologi di Rumah Sakit Rajagiri, Kochi, terasa penuh dengan dua hal: harapan dan keputusasaan.

Seorang pria duduk diam menatap lantai, tubuhnya lemah karena penyakit hati yang sudah parah dan sangat membutuhkan perawatan. Di dekatnya, satu keluarga lain memegang map berisi laporan medis lama, berharap rumah sakit masih bisa menyelamatkan orang yang mereka cintai.

Di dalam, Dr. Cyriac Abby Philips tampak tidak tergesa-gesa.

Seorang pasien duduk di hadapannya. Philips mencondongkan tubuh, bertanya, lalu diam. Ia mendengarkan—benar-benar mendengarkan. Saat berbicara lagi, penilaiannya jujur namun disampaikan dengan penuh pengertian. Ia tidak hanya memberi tahu keluarga tentang langkah selanjutnya; dengan hati-hati ia memandu mereka melalui jalan yang ada di depan.

Saya menghabiskan dua hari di kliniknya di negara bagian Kerala, India selatan, dengan harapan menemukan sosok yang sangat berbeda.

Philips adalah salah satu dokter paling terkenal—dan paling kontroversial—di Indonesia online: dikagumi pendukungnya sebagai pejuang tanpa rasa takut untuk pengobatan berbasis bukti, dibenci kritikusnya sebagai provokator yang haus perhatian.

Di X, dengan lebih dari 300.000 pengikut yang mengenalnya sebagai “Liver Doc”, ia menyebut homeopati sebagai “obat palsu”, melabel tabib alternatif sebagai dukun, dan mengatakan kepada para kritikus bahwa otak mereka “bisa disewa”. Para praktisi alternatif menuduhnya tidak memahami sistem India dan menyerang mereka secara tidak adil.

Linimasa akun-nya dipenuhi informasi kesehatan masyarakat, tetapi juga perseteruan sengit—termasuk dengan para selebritas—dalam gaya yang dianggap banyak orang tidak sopan.

Kementerian Ayush India—badan federal yang mengawasi pengobatan tradisional—telah menggelar dua rapat komite resmi hanya untuk membahas dirinya. Seorang inspektur polisi pernah menempuh perjalanan kereta dua hari dari Uttar Pradesh di utara hanya untuk menginterogasinya soal sebuah unggahan di media sosial. Dalam enam tahun, Philips menghadapi16 kasus hukum, beberapa masih berlangsung.

MEMBACA  Politikus sayap kanan Jerman Björn Höcke bersalah karena menggunakan slogan Nazi

Namun, sosok di balik persona media sosialnya tampak sangat berbeda saat ditemui langsung.

Selama percakapan kami, ia hadir sebagai orang yang tenang dan lembut saat bicara. Pasien jangka panjang, rekan kerja, dan dokter yang mengenalnya juga menggambarkannya dengan cara serupa: sopan, rendah hati, dan penuh perhatian.

“Ini persona yang sengaja saya pakai,” katanya tanpa rasa menyesal. “Mereka membenci saya. Tapi mereka tidak bisa menolak kebenaran informasi yang saya berikan.”

“Kadang kamu harus berisik biar didengar. Saya sengaja menghadapi para perundung, supaya mereka tidak mengalihkan perhatian dari pesan yang saya coba sampaikan. Kalau orang menganggap saya kasar atau pemarah, meskipun itu tidak benar, saya rela membayar harga itu.”

Tinggalkan komentar