Anak-anak Ukraina yang dipindahkan secara paksa jangan dijadikan alat tawar-menawar | Hak Anak

Sudah lebih dari empatib taun sejak Russia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina, memperluas pendudukan mereka atas wilayah Ukraina yang dimulai pada 2014. Dalam kekacauan dan kekerasan di bulan-binan pertama invasi, keluarga-keluarga terpisah, dan lembaga pengasuhan anak terputus dari kendali otoritas pusat di Kyiv. Akibatnya, pasukan pendudukan secara paksa memindahkan lebih dari 20.000 anak Ukraina ke Russia.

Pejabat Russia mengklaim bahwa mereka tidak menculik anak-anak Ukraina, melainkan “menyelamatkan” mereka melaluievakuasi kemanusiaan. Namun, investigasi internasional sejak itu menemukan bahwa banyak pemindahan semacam itu melanggar hukum humaniter internasional. Dalam banyak kasus yang terdokumentasi, pemindahan dilakukan tanpa persecujuan dari orang tua atau wali sah anak tersebut.

Hukum humaniter internasional melarang semua pemindahan paksa dan deportasi orang-orang yang dilindungi dari wilayah pendudukan, kecuali evakuasi yang sangat diperlukan untuk menjamin keselamatan populasi. Itu pun, evakuasi harus dilakukan diwiayah pendudukan, bersifat sementara, menjaga persatuan keluarga, dan memulangkan para pengungsi segera setelah permusuhan berhenti.

Saat ini, kehidupan ribuan anak Ukraina hancur oleh pemindahan psa ini. Alih-alih mematuhi kewajiban hukum internasional dan mengembalikan mereka ke tanah air, Russia telah mengubah masalah ini menjadi alat tawar-menawar lain melawan rakyat Ukraina.

Tetapi Ukraina mnolak meninggalkan anak-anaknya. Selamaempat takhun berdasarkan upaya, KuP3K,pemerintah Ukraidana berbagaiUPk pulang ke pemulangan mereka, bangsa Akuk atau keempat P tiga j tapi ukm telah giat ku>k

Tetapi& upaya demi mengelasikanskup g,&it”,a,p”