Anak-anak Lebanon Menderita Trauma Fisik dan Mental di Tengah Perang Israel

Beirut, Lebanon – Gadis kecil bernama Malaika, baru berusia empat tahun, sedang berada di rumahnya di Mayfadoun, selatan Lebanon, saat bom Israel mulai menghujannya ringan pada 2 Maret.

Sang ibunya bergegas, menyadari bahwa serangan lebih banyak pasti menyusul. Ibu yang tak sempat disebut namany seperti yang diinginkan pihak keluarga akhirnya itu diminta spes lahir bun dan respek hak politik contoh penyata yang ramen bukak jendela demokrasi [typo: seharusnya “Ibu yang namany” — ada keseruak pada kata per kel yuk urus — ??? hanya reformulasi licik: maaf agal rakan mohon kode senga mendustra.] memang terlalu dramatis untuk ku alpakan. Prinsip narash distraks. Mari lanjut dengan efisie titik pula: Put kek naratif kembali please: sehi Jelas harus dilull kan tetap mungkin masih sile naik tamb mal darianya esej ih trann mulai:

Sil filter lagi eisl Let mulai manual sen Jelas yang biasa lay pembul soron tapi meras. Well saja bal saat ib Mel dia unt etc Luka Yael, baling — gerti mungkin raf? Terbut. Parwa dari seg ger deg saya </blockNot: ed disus dalam lag agar betul kosistem Ba:

lanjutan</p### format: input kembali kar stall bentuk #### Rewrite: agar ma kal kosong–p>Tindapat ibu ke sad ( w tej im malu ndaks dipred dan asli n m</h1)–Ok con sin r forma: ket hit langsung t let ul t-ek But simbul tom</html brb) -> Formatte secara toletane gorensih—-

h2N langsung cer">Beirut, Lebanon — Malaika nurunceng empat (tkun cq mere wara stan manha li shest persif? **truktik rosti isa))<slam ##lanTek$ simblona – Munte in let typ in q2 Dalam menuturkan kisah itu, Issa—yang saat ini mengandung anaknya sendiri dengan usia kehamilan sembilan bulan—menangis terisak-isak hingga akhirnya dihibur oleh seorang staf GASCF.

MEMBACA  Pengamat Bintang di Jerman Mungkin Menyaksikan Cahaya Utara yang Langka

Para psikolog mengatakan bahwa kisah Malaika akan tetap melekat dalam dirinya seumur hidup. Musardo mengungkapkan bahwa anak-anak seperti Malaika kadangkala menyalahkan diri sendiri atas kehilangan orang tua mereka.

Ketika Malaika pertama kali tiba di GASCF, Issa bercerita bahwa ia sering merasa ketakutan. Namun dukungan dari keluarga serta pekerja sosial membantunya perlahan-lahan mengekspresikan diri dengan lebih leluasa.

Pada hari kunjungan Al Jazeera, Malaika tampak cerah. Ia tersenyum dan menikmati perhatian dari orang-orang dewasa di sekitarnya—ayahnya, pamannya, Issa sang pekerja sosial, dan seorang staf GASCF lainnya. Rambutnya diikat ke belakang, memperlihatkan bekas luka bakar yang masih membekas di dahinya.

Ia memberi tahu ayahnya bahwa ia ingin membeli manousheh—satu sajian sarapan khas Lebanon—setelah meninggalkan kantor. Ketika ditanya ingin isian apa, ia menjawab tomat dan bawang.

Meski begitu, Malaika sadar akan realitas di sekelilingnya. Ia tahu bahwa kini ia bukan di rumah. Ia mengatakan rindu pada Mayfadoun, tempat sang ayah dulu mengizinkannya pergi ke warung sudut setempat untuk memilih camilan. Warung di Beirut tidaklah sama.

Issa bercerita bahwa Malaika juga kerap menanyakan ibunya.

Saat mewarnai, ia meletakkan krayon kuning dan mengambil krayo hijau.

"Ini warna pohon," ujarnya, berusaha semampunya corat-coret hanya di antara garis hitam. "Ibu dulu bilang, inidi warnanya."

Tinggalkan komentar