Trump Ingin Potong Pinjaman Federal untuk Program Kuliah yang Tak Menguntungkan, Termasuk Seni dan Musik

Kampus-kampus mungkin bakal harus kasih peringatan keras ke mahasiswa: beberapa program studi mereka mungkin nggak worth it secara finansial.

Awal bulan ini, Departemen Pendidikan ngusulin aturan baru yang bakal ngilangin akses pinjaman federal buat program kampus yang lulusannya punya penghasilan terlalu rendah. Untuk program S1, lulusan harus punya gaji minimal sama kayak pekerja muda lulusan SMA. Untuk program pascasarjana, lulusan harus lebih baik dibanding standar pekerja dengan gelar S1. Di beberapa kasus, program yang gagal juga bisa kehilangan akses ke beasiswa Pell.

Program yang paling beresiko itu bermacam-macam, dari kampus tradisional 4 tahun sampe institusi vokasi. Ada program sertifikat jangka pendek kayak tata rambut dan pelatihan vokasi lain. Ada juga program gelar di bidang kayak musik, seni rupa, dan bidang kesehatan tertentu yang gaji awalnya sering rendah.

Dari hampir 20 juta mahasiswa, sekitar 95% ikut program yang kemungkinan lolos tes pendapatan. Tapi hampir 2.000 kampus di AS punya setidaknya satu program yang beresiko gagal tes, dan itu bisa ngaruh ke lebih dari 600.000 mahasiswa, kata Preston Cooper dari American Enterprise Institute. (Lo bisa cek daftar program beresikonya di sini, termasuk studi pertanian, telekomunikasi, dan program keguruan).

Cooper bilang ini bukan cuma masalah prospek karir. Dia nunjuk ke hutang pinjaman federal sebesar $1,7 triliun sebagai alasan kenapa program ini harus bertanggung jawab atas kerugian finansial.

“Beberapa orang kuliah dan ambil pinjaman buat program yang sebenarnya nggak punya banyak nilai ekonomi,” kata Cooper ke Fortune. “Mereka akhirnya punya banyak hutang, tapi penghasilannya nggak cukup buat bayar hutang itu.”

### RUU ‘One Big Beautiful Bill’ Trump lagi nulis ulang sistem keuangan pendidikan tinggi

Aturan baru ini berasal dari RUU One Big Beautiful Bill nya Presiden Donald Trump dan bisa final bulan Juli 1. Data IRS bakal dipake buat ngitung median penghasilan lulusan dan nentuin apakah program tersebut bikin lulusan lebih baik secara finansial. Program harus gagal tes pendapatan dua dari tiga tahun sebelum kehilangan akses pinjaman federal. Sementara itu, program yang kena tanda bakal diwajibin ngasih tahu mahasiswa soal status “low earning outcome” mereka.

MEMBACA  Alasan CSW Industrials (CSWI) Menjanjikan sebagai Investasi

Perubahan besar nggak bakal langsung berlaku. Cooper bilang institusi mungkin baru harus ngelakuin penyesuaian signifikan di tahun ajaran 2028–29, pas program yang gagal mulu harus milih: tutup atau jalan terus tanpa akses pinjaman federal.

Perubahan ini bisa nambah transparansi baru di pendidikan tinggi—sesuatu yang kurang banget di level program, tambah Cooper. Pemerintahan Obama dulu udah nyoba atur akuntabilitas pendapatan lewat aturan “gainful employment,” tapi itu cuma berlaku buat kampus for-profit dan program vokasi,

Wakil Menteri Pendidikan Nicholas Kent bilang di rilis pers aturan baru ini bakal ngembangin akuntabilitas—dan ngehasilin pembayar pajak nggak perlu subsidi program pendidikan yang bikin lulusan boncos.

“Kerangka kerja yang didukung konsensus ini bakal dorong perubahan berarti di pendidikan tinggi, ngakhiri tahun-tahun kebingungan regulasi, dan ngatasi utang mahasiswa yang bikin banyak siswa makin susah,” kata Kent.

Departemen Pendidikan bilang ke Fortune mereka nggak bisa ngasih komentar lebih lanjut selama periode komentar publik yang berakhir 20 Mei.

Perubahan lain juga datang ke sistem pembiayaan kuliah bareng aturan pendapatan ini. Mulai Juli 1, 2026, program Grad PLUS—yang ulang tahun ke-20 Juli ini dan ngizinin mahasiswa pascasarjana pinjem sampe biaya penuh—lagi dihapus. Batasan baru berlaku: mahasiswa profesional kayak farmasi, kedokteran gigi, hukum, dan kedokteran bisa pinjem sampe $50.000 per tahun, dengan batas seumur hidup $200.000. Mahasiwa pascasarjana lain, kayak keperawatan, akuntansi, dan pendidikan, bisa pinjem sampe $20.500 per tahun, dengan batas $100.000.

### Gen Z lagi ngerasain sendiri: gelar kuliah nggak jamin kerja stabil

Nilai investasi pendidikan tinggi makin jadi topik panas gara-gara banyak anak muda ngeliat kenyataan pahit: janji lama kalo gelar kuliah bisa dapet kerja gaji tinggi nggak berlaku buat semua orang.

MEMBACA  Tim tugas Trump akan menyelidiki $8.7 miliar pendanaan untuk Harvard setelah Columbia tunduk pada tuntutan federalTim tugas Trump akan menyelidiki $8.7 miliar pendanaan untuk Harvard setelah Columbia tunduk pada tuntutan federal

Sekitar 5,6% lulusan kuliah umur 22 sampe 27 nganggur, dan 42,5% lulusan baru underemployed, menurut data dari Federal Reserve Bank of New York. Sementara itu, selama 30 tahun terakhir, rata-rata SPP di kampus negeri dan swasta naik dua kali lipat setelah dihitung inflasi, kata College Board. Rata-rata saldo pinjaman federal juga naik ke sekitar $39.075 per peminjam. Saat pemerintahan Trump mulai lagi pembayaran pinjaman setelah usaha Biden buat hapus atau ubah program tersebut, saldo ini lagi ngecekek anggaran rumah tangga.

Ditambah dengan naiknya AI—dan ketidakpastian tentang apakah beberapa pekerjaan entry-level bakal ada di masa depan—pertanyaan soal apkah kampus udah beradaptasi cukup cepet buat kebutuhan tenaga kerja makin tajam.

Di saat yang sama, beberapa pemimpin bisnis mulai mikir ulang apa yang seharusnya dipelajari mahasiswa. Bukannya ngarahin anak muda cuman ke bidang teknis bergaji tinggi kayak ilmu komputer, makin banyak orang yang mulai nenekanin pentingnya keterampilan dari jurusan humaniora atau pendidikan seni liberal untuk jangka panjang.

“Sebenernya saya pikir belajar humaniora bakal jadi lebih penting dari sebelumnya,” kata Presiden Anthropic Daniela Amodei ke ABC News. “Banyak model AI ini sebenernya jago banget di STEM. Tapi saya rasa hal-hal yang bikin kita unik sebagai manusia—paham diri sendiri, paham sejarah, paham apa yang bikin kita bergerak—itu bakal selalu penting banget, banget.”

Ada ketegangan antara minat yang naik ke keterampilan berpusat manusia dan kebijakan yang makin fokus ke penghasilan. Ini nunjukin perdebatan besar soal apa yang harus diberikan pendidikan tinggi. Steve Taylor, direktur kebijakan di Stand Together Trust, organisasi nirlaba untuk mobilitas ekonomi dan anggota Dewan Pendidikan Tinggi Negara Bagian Virginia, bilang model “harus lulus kuliah” udah gagal buat terlalu banyak orang Amerika.

MEMBACA  DIA Raih Aset Senilai $359 Juta Setelah AS dan UE Capai Kesepakatan Dagang

“Kuliah bisa punya nilai sipil, pribadi, dan budaya di luar gaji,” katanya ke Fortune. “Tapi pas mahasiswa ambil hutang federal, wajar buat nanya apakah program itu kasih jalan yang masuk akal buat bayar hutang mereka.”

Dengan lebih banyak transparansi di tingkat program, mahasiswa bakal punya gambaran lebih baik soal prospek kerja setelah lulus dari jurusan tertentu, dibanding belajar dengan cara susah pas mereka nggak bisa dapet kerja dan harus bayar hutang dari awal.

“Kalo sebuah progam selalu ninggalin lulusan dengan hutang yang susah diatur, mahasiswa harus tau itu sebelum mereka daftar,” tambahnya. “Dan institusi harus nanya apakah mereka bantu mahasiswa nerjemahin apa yang mereka pelajari jadi keterampilan yang tahan lama, kerja yang bermakna, dan kemampuan adaptasi jangka panjang.”

Transparansi yang lebih besar juga bisa buka pintu ke peluang di luar jalur gelar tradisional yang mulai terbuka—termasuk perdagangan terampil dan program pelatihan karir lainnya.

“Kuliah masih bisa jadi pilihan bagus,” kata Taylor. “Tapi jangan dianggep sebagai satu-satunya jalan serius menuju kesempatan.”

Cooper setuju dengan itu, tapi bilang perbincangan harusnya nggak cuma soal perbedaan antara kuliah empat tahun dan sekolah kejuruan—tapi fokus ke program mana yang bener-bener kasih hasil bagus buat mahasiswa.

“Saya pikir ada program kuliah empat tahun yang bagus, dan ada progam sekolah kejuruan yang bagus. Ada juga program kuliah empat tahun yang jelek, dan ada program sekolah kejuruan yang jelek,” kata Cooper.

“Kita harus kasih alat ke mahasiswa buat ngerti mana jalur bernilai tinggi di setiap sektor itu.”

Tinggalkan komentar